Arema FC Disarankan Take Over Stadion Kanjuruhan

Arema FC belum memutuskan di mana markas baru yang akan digunakan untuk lanjutan BRI Liga 1. Seperti diketahui, tim berjuluk Singo Edan disanksi bermain diluar Stadion Kanjuruhan setelah Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 135 orang.

Arema FC masih menunggu seperti apa sistem kompetisi yang diputuskan operator kompetisi dan PSSI. Jika tidak menggunakan sistem buble seperti musim lalu, baru mereka memutuskan kandangnya.

Sembari menunggu, manajemen Singo Edan mendapatkan masukan dari mantan manajer kompetisi AFC, Mohd Saifudin Abu Bakar. Yakni melakukan take over Stadion Kanjuruhan.

Tentunya jika nanti stadion milik Pemkab Malang itu sudah direnovasi. Karena Presiden RI, Joko Widodo sudah menginstruksikan untuk memugar stadion tersebut.

Take over Stadion Kanjuruhan ini juga untuk memastikan bahwa sistem pengelolaan pertandingan berjalan sesuai dengan regulasi dan sistem pengamanan.

Namun jika masukan ini diterima, Arema tetap harus menunggu waktu paling cepat satu tahun pembangunan. Karena Stadion Kanjuruhan kemungkinan baru direnovasi pada 2023. Estimasinya, paling cepat rampung dalam satu tahun.

“Sebenarnya kalau mau, tapi memang membutuhkan biaya yang besar. Arema FC bisa melakukan ‘take over’ stadion.”

“Tujuannya bisa melakukan kontrol sepenuhnya terhadap sistem pengelolaan pertandingan di stadion termasuk sistem pengamanannya,” kata Saifudin Abu Bakar dalam rapat virtual bersama manajemen Arema FC beberapa waktu lalu.

Kendati demikian, manajemen Arema memberikan apresiasi atas masukan tersebut. Ini jadi referensi Arema untuk menentukan langkah kedepan.

“Kami sangat berterimakasih atas saran dan masukan yang diberikan di fase pemulihan Arema FC ini.”

“Banyak hal yang di luar dugaan yang bisa menjadi referensi ke depan seperti apa langkah yang harus dilakukan oleh Arema FC,” kata Manajer International Affair Arema FC, Fuad Ardiansyah.

Di satu sisi, Fuad menyatakan bahwa opsi take over stadion bisa jadi akan memberikan nilai plus pada Arema FC. Selain untuk mengelola sistem pertandingan juga mampu memenuhi salah satu aspek yang menjadi sarat club licensing yakni infrastruktur.

“Harapannya memang begitu, tapi kami akan melakukan komunikasi dan diskusi terkait hal ini,” jelas Fuad.

Sebagai contoh, Bali United sudah lebih dulu melakukan langkah ini. Mereka bekerjasama dengan pemerintah Bali untuk mengelola Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar. Sehingga manajemen Bali United punya wewenang penuh atas penggunaan stadion itu.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.