Cerita Ferdinand Sinaga ‘Impikan’ Nomor Punggung 17 saat di PSM Makassar tapi Hargai Rasyid Bakri

Sosok Ferdinand Sinaga mungkin tak akan lekang dari ingatan para suporter PSM Makassar.

Diketahui, Ferdinand Sinaga pernah menjadi andalan dari PSM Makassar sebagai striker.

Namun dibalik itu semua, ada cerita luar lapangan dari Ferdinand Sinaga yang begitu menarik saat dirinya masih membela PSM Makassar.

Ferdinand Sinaga pertama kali berseragam PSM Makassar pada tahun 2015 dengan status pinjaman.

Pada tahun 2015 saat kompetisi resmi dilarang akibat PSSI dibekukan oleh FIFA, Ferdinand Sinaga hijrah ke PSM Makassar.

Saat itu PSM Makassar akan berlaga di turnamen Piala Presiden sehingga Ferdinand Sinaga didatangkan dengan status pinjaman.

Kemudian pada tahun 2016 Ferdinand Sinaga resmi dipatenkan oleh PSM Makassar.

Tepatnya pada ajang Indonesia Soccer Championship atau ISC 2016 Ferdinand Sinaga resmi menjadi bagian dari skuad Juku Eja.

Ferdinand Sinaga mengenang saat dirinya pertama kali berseragam PSM Makassar memiliki keinginan untuk kembali mengenakan jersey bernomor punggung 17.

Sejak memulai kariernya sebagai pesepakbola profesional, Ferdinand Sinaga sudah identik dengan nomor punggung 17.

Pertama kali ia mengenakan nomor punggung 17 saat membela Persiwa Wamena pada tahun 2010.

Sejak saat itu Ferdinand Sinaga selalu mengenakan nomor tersebut.

Termasuk saat dirinya menjadi bagian dari skuad juara Persib Bandung pada tahun 2014 lalu.

Hanya saja di PSM Makassar ia tak sempat mengenakan nomor punggung 17.

Selama bersama PSM Makassar Ferdinand Sinaga hanya mengenakan nomor 3 dan 6.

Ternyata di balik itu semua, ada sosok Rasyid Bakri yang ia hargai.

“Saya menghargai dia, karena dia lebih duluan,” ucap Ferdinand Sinaga saat diinterview di channel youtube Sport77 Official.

Ferdinand mengungkapkan bahwa Rasyid Bakri sempat ingin memberikan nomor punggung 17 kepadanya.

“Sempat ngobrol sama Rasyid bilang Bang nomor 17 saya bilang pakai saja<‘ ungkapnya.

“Karena kau lebih duluan yang pegang dan sudah menyerap dipunggung jadi yah sudah,” sambungnya.

Lantaran tak bisa menggunakan nomor punggung 17, Ferdinand Sinaga pun memilih nomor punggung 3.

“Itu tanggal lahir istri saya nomor 3 jadi saya pakai itu,” katanya.

Nomor punggung 3 dipakai Ferdinand Sinaga sejak tahun 2016 hingga 2017.

Pada musim 2018, nomor 3 tak lagi jadi milik Ferdinand Sinaga di PSM Makassar.

Pasalnya, pada musim tersebut ia memilih hengkang ke klub Liga Malaysia Kelantan.

Hanya beberapa bulan di Kelantan, Ferdinand Sinaga akhirnya kembali ke PSM Makassar yang baru memulai kompetisi Liga 1 musim itu.

Nomor punggung 3 yang awalnya miliknya kemudian digunakan Zulkifli Syukur dan terlanjur didaftarkan.

Akhirnya Ferdinand Sinaga memilih nomor punggung 6.

“Kalau nomor 6 itu bulan lahir anak saya,” ucapnya.

Ferdinand Sinaga pun akhirnya mengenakan nomor punggung 6 hingga tahun 2020.

Cerita Lain Ferdinand Sinaga saat di PSM Makassar

Ferdinand Sinaga bercerita tentang bagaimana perjalanan karirnya sejak berseragam PSM Makassar.

Salah satunya, pesepak bola berposisi striker ini mengaku tak pernah mendapat jaminan menjadi pemain utama di tim berjuluk Laskar Pinisi itu.

Ferdinand diketahui bergabung dengan tim asal Makassar, Sulsel itu pada 2015 dengan status pinjaman dari Semen Padang.

Barulah di tahun 2016, kontraknya paten di Makassar dan tampil di Torabika Soccer Championsip (TSC) sampai Liga 1 musim 2020 ini.

Sejak TSC 2016, PSM diketahui telah berganti nahkoda beberapa kali utamanya pelatih kepala.

Seperti Luciano Leandro 2016, Robert Alberts 2016-2018, Darije Kalezic 2019 dan Bojan Hodak 2020 ini.

“Dari tahun 2016 tak ada jaminan utama aku di PSM sampai sekarang. Tapi mungkin ini saatnya ada turunnya (performa). Jadi harus terimalah,” ujar Ferdinand dalam bincang-bincang bersama presenter bola Valentine Simanjuntak dilansir Tribun-Timur.com, Selasa (26/5/2020).

Statistik The Dragon pada kompetisi TSC 2016 menjadi satu-satunya ia mendapat penampilan terbanyak melalui menit pertama.

Hal itu tidak lepas dari buruknya striker asing PSM di bawah besutan Luciano Leandro, Lamine Diarrasouba.

Lamine kemudian didepak dan digantikan Luiz Ricardo Dos Santos namun ia mengalami cedera di tengah putaran kedua TSC.

Kesempatan tampil starter pun lebih banyak diberikan Ferdinand pada saat itu.

Statistiknya adalah 23 laga dimulai dari menit awal dan hanya sekali digantikan dengan sukses mencetak 10 gol.

Saat kompetisi berganti menjadi Liga 1 di musim 2017 sampai 2019, penampilan Ferdinand kemudian lebih banyak dimulai dari bangku cadangan.

Di tahun 2017, ia tampil sebanyak 29 laga dengan rincian 19 kali starter, delapan kali masuk menggantikan dan sembilan laga ditarik keluar.

Pada musim 2018 malah lebih banyak Ferdinand masuk menggantikan dengan 17 partai.

Dibandingkan starter hanya 13 laga pada musim tersebut dan empat laga ditarik keluar.

Di musim 2019 pun demikian, dia hanya mencatatkan sebanyak 14 kali starter dan 14 masuk menggantikan.

Meski demikian, Ferdinand mampu bersaing sebagai top skor dalam tim dengan mencetak 10 gol di musim 2018 dan sembilan gol di tahun 2019.

“Ini saatnya aku ada turunnya, jadi harus terima lah. Harus belajar. Kita jangan belajar di atas saja, tapi kita juga belajar saat di titik terendah.

Walau tak pernah mendapat jaminan sebagai pemain utama, Ferdinand tetap merasa senang berada di PSM.

Faktor keluarga menjadi utama lantaran istri dan tiga putranya menetap di Makassar.

Suasana kekeluargaan yang apik antara pemain PSM juga diakui Ferdinand jadi faktor lain.

Namun jika pelatih memang sudah tidak membutuhkan dirinya, ia menegaskan harus legowo untuk berganti kostum.

“Setelah lebih tiga tahun di sini, untuk keluar pun pasti sudah lain. Cocok sampai dibutuhkan lah. Tapi mungkin agak berat (keluar dari PSM) tapi mau tidak mau karena ini kebutuhan tim,” pungkasnya. (Tribun Timur)