Trauma Tragedi Kanjuruhan, Asisten Pelatih Arema FC Sampai Ingin Pensiun

Selepas laga antara Arema FC dan Persebaya Surabaya, 1 Oktober, di Stadion Kanjuruhan, adalah sebuah tragedi terbesar dalam sejarah sepakbola Indonesia.

Ratusan orang meninggal dunia, dan nyaris separuhnya adalah anak-anak. Tim Arema kalah 3-2 dari Persebaya, dan sisanya adalah kerusuhan yang maut.

Ribuan orang dibuat panik oleh gas air mata yang ditembakkan aparat, karena akses keluar stadion belum terbuka sepenuhnya ketika momen tersebut tiba-tiba terjadi.

Para anggota tim Arema pun merasakan syok berat dengan kejadian di Kanjuruhan. Seperti dipaparkan FX Yanuar, asisten pelatih, yang sampai berpikir untuk pensiun.

“Sempat berpikir untuk meningalkan sepakbola karena tragedi ini.. Karena tidak selayaknya sepakbola sampai mengorbankan nyawa manusia,” curhat Yanuar via Instagram.

Yanuar melanjutkan, bahwa dorongan semangat dari korban kejadian di Kanjuruhan, justru membuat dirinya mengurungkan niat untuk benar-benar meninggalkan sepakbola.

“Tetapi saat seorang ayah yang kehilangan anak gadisnya 15 tahun di tragedi ini dengan tegar berkata ‘tetap semangat jangan pernah menyerah dan jangan pernah mundur.. Saat itulah semangat bangkit kembali untuk membangun sepakbola Indonesia dan tidak akan pernah hilang,” kisahnya.

Akhir kata, Yanuar sangat berharap kejadian nahas ini menjadi titik balik sepakbola Indonesia yang lebih baik. “Mari berbenah mari berubah untuk kejayaan sepak bola Indonesia,” pungkasnya.