Kontras Beberkan Penyebab Ratusan Aremania Meninggal Dunia Dalam Tragedi Kanjuruhan

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) turun ke Malang untuk mendengar kesaksian langsung dari Aremania. Kontras bahkan telah mempunyai beberapa kesimpulan atas tragedi Kanjuruhan yang merengut nyawa 125 Aremania dan sekitar 400 an Aremania terluka.

“Kami melihat ada kelalaian panpel dan tindakan aparat kemananan. Kelalian panpel jumlah penonton di luar kapasitas stadion,” kata Sekjen Federasi Kontras Andi Irfan, Senin, 3 Oktober 2022.

Andi Irfan juga melihat potensi kerusuhan disebabkan standar operasional prosedur penyelamatan tidak dilakukan saat chaos berlangsung. Hal itu diperkuat kesaksian Aremania yang mengungkapkan saat gas air mata ditembak ke tribun pintu stadion mulai gate 11 hingga 14 tidak dibuka.

“Potensi kerusuhan dan korban yang cukup banyak karena SOP penyelamatan tidak terjadi. Sejumlah pintu gate 11 hingga 14 tertutup dan tidak segera di buka sehingga suporter terjebak,” imbuh Andi Irfan.

Andi Irfan juga menuding bahwa penyebab banyaknya korban jiwa meninggal dunia karena gas air mata. Apalagi sudah jelas penggunaan gas air mata dilarang FIFA dalam mengendalikan keamanan dan massa di dalam stadion.

“Gas air mata memang tidak mematikan tetapi tidak boleh digunakan di stadion jelas FIFA tidak membolehkan. Kami menduga kuat sumber jatuhnya korban jiwa karena gas air mata,” ujar Andi Irfan.

Andi Irfan meminta Kapolri Jendral Lestyo Sigit Prabowo untuk meminta maaf atas tragedi Kanjuruhan. Bahkan dia meminta Kapolda Jatim Irjen Nico Afinta dan AKBP Ferli Hidayat yang baru saja dicopot dari jabatannya untuk mundur tanpa harus dipecat.

“Kita punya polisi yang terlatih dan dilatih tidak untuk membunuh korban tetapi untuk melindungi kita. Lihat polisi justru menembakan gas air mata bukan ke lapangan tapi justru ke atas tribun. Sementara di tribun banyak orang-orang rentan, anak-anak, wanita dan ibu-ibu,” tandasnya. (luc/kun/beritajatim.com)