Rencana Sadikin Aksa untuk PSM, Perkuat Struktur Keuangan Hingga Buat Training Center

Direktur Utama PSM Makassar Sadikin Aksa memiliki rencana jangka panjang untuk klub PSM.

Pria 45 tahun ini ditunjuk sebagai pengganti Munafri Arifuddin di kursi direktur utama PSM melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Persaudaraan Sepakbola Makassar.

Sadikin bakal memperbaiki struktur keuangan perusahaan. Menurutnya untuk jadi perusahaan berkelanjutan harus mempunya struktur keuangan yang kuat.

“Struktur keuangan ini bukan cuma dari manajemen. Kita punya suporter yang sering datang ke stadion dengan membayar tiket itu juga bagian dari struktur kita. Jadi income stadion itu harus bagus,” jelasnya saat ditemui di Cafe Floom, Jl Unta Lama, Makassar, Minggu (2/10/2022).

“Kita juga ada subsidi, ada sponsor, ada penjualan merchandise. Itu bagian dari pemasukan kita. Tapi dari sektor sepak bola, hampir semua klub sepak bola incomenya banyak bukan cuma dari bagian ini,” lanjutnya.

Makanya, Sadikin Aksa saat ini membangun road map klub. Sebelum bangun road map ia telah menganalisa hampir 20-24 klub di dunia.

Ternyata, bisnis model klub di dunia itu berbeda-beda. Klub luar negeri ada yang punya bisnis model yang bergantung dari merchandise, ada sponsor, ada stadion. Jadi beda-beda.

“Oleh karena itu, saya di sini membangun infrastruktur keuangan dan bagaimana resikonya ke depan Apa resikonya jika liga berhenti,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, sudah ada mitra daru luar ingin masuk ke PSM. Mereka melihat PSM klub tertua, punya suporter loyal.

Selain loyal, suporter PSM memiliki hubungan baik dengan seluruh suporter tim di Indonesia.

Bahkan, tiga minggu lalu ia bertemu dengan petinggi PSSI dan PT LIB di laga lawan Persik Kediri menanyakan terkait kiat PSM bisa dekat dengan suporter.

Sadikin menyampaikan, ikatan yang terjalin dengan suporter sudah berlangsung lama, bukan hanya tahun ini saja.

“Kalau ada mau dikomunikasikan, kami komunikasi dengan suporter karena mereka adalah bagian dari PSM. Meski, masukan suporter tentu kita harus realistis yang bisa diterima,” ungkapnya.

“Olehnya itu kalau saya ditanya paling dibenahi struktur keuangan, saya harus punya modal yang kuat, punya sistem yang kuat baru memajukan yang lain. Bagaimana bisa jalankan yang lain, kalau saya tidak punya struktur keuangan yang kuat,” tuturnya.

Selanjutnya, ia ingin membangun training center setelah keuangan kuat. Ia mengaku belum bisa menuruti keinginan suporter untuk bangun stadion.

Alasannya, kalau bermain di stadion paling hanya sekali sepekan. Itu pun hanya 90 menit. Namun, kalau training center selalu digunakan untuk latihan.

“Kalau kita tidak punya training center bagus, bagaimana kita punya tim kuat tanpa training center bagus,” sebut Sadikin.

Lalu, Sadikin ingin perbaiki pendapatan dan branding PSM. “Komersil harus diperbaiki dan branding harus diperkuat,” sambungnya.

Kemudian, membuat profesional akademisi. Sadikin menuturkan, salah satu pendapatan sebuah perusahaan sepak bola ada akademi.

“Kita akan buat profesional akademi. Akademi akan kerja sama dengan daerah-daerah. Kita sudah ada akademi di Mamuju, Sulawesi Barat. Ada beberapa tempat lain juga mau kerja sama akademi,” tuturnya.

Sebab, ia melihat ada pergeseran usia matang sepak bola saat ini. Dulu berusia 27-32 tahun. Sekarang berusia 20-27 tahun.

Bahkan, saat ini ada pemain usia 18 tahun yang meminta bayaran Rp 2 miliar setahun.

“Saatnya kita branding akademi yang bagus. Ini bagian dari road map kita,” pungkas Sadikin. (tribun-timur.com)