Aji Santoso dan Seto Nurdiantoro Harap Tak Ada Lagi Korban Jiwa di Sepak bola

Euforia kembalinya sepak bola nasional setelah pandemi diselimuti duka karena sederet kasus yang menyebabkan tewasnya sejumlah suporter di seputar penyelanggaraan Liga 1 2022-2023.

Hal ini menggugah nurani dua pelatih nasional, Aji Santoso dan Seto Nurdiantoro.

Sebagai aktor lapangan hijau, mereka ikut prihatin atas tragedi-tragedi yang menimpa. Sudah seharusnya tidak ada korban jiwa dari antusiasme menyaksikan sepak bola.

Aji Santoso dan Persebaya Surabaya tengah berduka atas meninggalnya seorang bayi dari pasangan Bonek yang hendak menghadiri laga Persebaya melawan Persita Tangerang, Senin (1/8/2022) di Stadion Gelora Bung Tomo.

Bayi berusia 6 bulan tersebut meninggal dunia akibat menempuh perjalanan panjang dari Tegal ke Surabaya dengan kendaraan bermotor sehari sebelumnya.

Sang orang tua pun sangat menyesali keputusannya. Ia tidak mengira keinginan menyaksikan tim kebanggaannya bersama keluarga kecil yang ia miliki justru berakhir dengan duka.

Aji Santoso secara pribadi ikut berbelangsungkawa atas insiden memilukan tersebut. Namun, ia juga meminta supaya kejadian ini menjadi pembelajaran untuk lebih bijaksana dalam mendukung tim kebanggaan.

“Untuk suporter, saya sangat berbela sungkawa dengan anaknya yang meninggal. Tetapi, harus lebih bijaksana lagi lebih pintar lagi bahwa nyawa lebih penting dari sepak bola,” ujar Aji.

Pelatih Persebaya Surabaya, Aji Santoso.

Pelatih Persebaya Surabaya, Aji Santoso.(KOMPAS.com/Suci Rahayu)

“Saya tahu dia sangat fanatik dengan tim persebaya, tapi fanatik itu jangan yang menimbulkan satu kerugian korban atau nyawa. jadi menurut saya perlu berhati-hati,” harapnya.

Suasana duka juga sedang menyelimuti kubu PSS Sleman setelah salah satu suporter mereka bernama Tri Fajar Firmansyah meninggal dunia.

Pemuda berusia 23 tahun tersebut menjadi korban salah sasaran gesekan salah satu basis suporter Jawa Tengah dengan warga sekitar lokasi kejadian.

Padahal, saat kejadian ia dan rekannya datang ke lokasi untuk menyaksikan konvoi.

Korban sempat tak sadarkan diri selama delapan hari di rumah sakit sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia.

Kejadian ini pun menggetarkan nurani pelatih PSS Sleman Seto Nurdiantoro. Ia pun berharap ini menjadi kejadian terakhir.

Pelatih PSS Sleman untuk Liga 1 2022-2023, Seto Nurdiantoro.

Pelatih PSS Sleman untuk Liga 1 2022-2023, Seto Nurdiantoro.(KOMPAS.com/SUCI RAHAYU)

“Kami dari tim merasa berduka. Semoga tidak ada kejadian-kejadian seperti itu lagi dan bisa menjadi pembelajaran,” kata legenda sepak bola Sleman itu.

“Mudah-mudah diberikan yang terbaik. Semoga almarhum, dihapus segala kesalahannya, keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan,” imbuhnya.

Sebagai bentuk belasungkawa tim PSS Sleman ingin mendedikasikan musim ini untuk menghormati almarhum.

“Semoga hal ini jadi motivasi tersendiri, bukan hanya pertandingan besok, tapi sampai kami menyelesaikan kompetisi dengan baik,” pungkasnya.