Kritik Pedas untuk Piala Presiden, Dejan Antonic: Di Indonesia Tidak Ada Pramusim, Suporter Minta Menang Terus

Pelatih Barito Putera, Dejan Antonic, melempar kritikan pedas terkait tuntutan suporter di tengah padatnya jadwal Piala Presiden 2022.

Dejan Antonic menyoroti penyelengaraan Piala Presiden 2022 sebagai turnamen pramusim jelang kick-off Liga 1 2022-2023.

Menurut Dejan Antonic, ada salah kaprah terkait Piala Presiden 2022.

Piala Presiden 2022 dinilai terlalu kompetitif untuk turnamen pramusim.

Alih-alih menyiapkan skuad untuk Liga 1, setiap tim malah berlomba untuk meraih gelar juara.

Dejan Antonic sendiri mengaku tak heran dengan kondisi ini.

Tingginya tuntutan dari suporter menurut Dejan Antonic menjadi faktor utama di balik ngototnya setiap tim yang tampil di Piala Presiden 2022.

“Di Indonesia itu tidak ada pramusim,” kata Dejan Antonic dikutip dari Kompas.com.

“Karena suporter dari hari pertama mintanya menang terus.”

“Jadi, jelas semua pertandingan di turnamen ini (Piala Presiden 2022) bukan pramusim.”

“Mungkin hanya di Indonesia saya persiapkan anak-anak fokus ke turnamen untuk tampil bagus, bukan untuk tampil di kompetisi dengan bagus,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Dejan Antonic menyoroti padatnya jadwal Piala Presiden 2022.

Dejan mencontohkan jadwal padat yang harus dilalui Piala Presiden 2022.

Barito Putera harus menjalani lima pertandingan dalam rentang waktu 21 hari.

“Saya tidak setuju dengan program dan jadwal Piala Presiden,” tutur Dejan Antonic.

“Pertama, tidak cukup waktu untuk persiapan. Kedua, pertandingannya terlalu dekat.”

“Kondisi pemain jadi tidak bagus. Mereka pasti capek dan butuh recovery,” sambungnya.

Pelatih asal Serbia itu menilai Piala Presiden 2022 justru menganggu persiapan tim sebelum Liga 1 bergulir.

Juru taktik berusia 53 tahun itu pun menjelaskan efek negatif di balik padatnya jadwal Piala Presiden 2022.

“Saya pikir lebih bagus kalau beri waktu lebih banyak untuk persiapan tim,” ungkap Dejan.

“Kalau tim tidak siap, maka tidak ada pertandingan yang bagus.”

“Nanti, orang-orang marah kenapa pemainnya capek atau kenapa pemainnya hilang konsentrasi.”

“Padahal itu semua karena tidak ada banyak persiapan,” pungkasnya.

Barito Putera sendiri gugur di babak perempat final usai menelan kekalahan di babak adu penalti dari Arema FC.