Apesnya Bali United di Piala Presiden 2022 dan AFC Cup 2022

Apes betul nasib Bali United: kandas di AFC Cup 2022 dan tersingkir di Piala Presiden 2022. Ada pula pertanyaan soal skala prioritas.

Pelatih Bali United Stefano Cugurra alias Teco sebenarnya sempat membuat pernyataan bahwa mereka lebih memilih AFC Cup 2022 ketimbang Piala Presiden 2022.

Nyatanya, ia malah menurunkan tim terbaiknya di Piala Presiden 2022, mengindikasikan keseriusan dalam menjalani ajang pramusim tersebut.

Andaikata kesuksesan kemudian diraih, tentu beda perkara. Yang jadi masalah adalah Bali United kandas di Piala Presiden 2022 dan juga AFC Cup 2022. Hal ini menjadi kekecewaan tersendiri buat publik sepakbola nasional, yang berharap klub Indonesia bisa berbicara banyak di pentas Asia.

Satu hal yang secara khusus bikin Bali United mendapat sorotan adalah kekalahan telak 2-5 saat menjamu klub Kamboja, Visakha, di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Senin (27/6/2022). Kekalahan di matchday kedua fase grup itu membuat kans lolos Bali United jadi lebih berat karena harus menang telak di laga terakhirnya melawan Kaya FC Iloilo.

Pada akhirnya Bali United cuma menang 1-0 atas Kaya FC, Kamis (30/6). Pupus sudah harapan Bali United lolos ke semifinal Zona ASEAN Piala AFC karena cuma menempati peringkat ke-3 Grup G.

“Buat Visakha, klub asal Kamboja, kalau mendapat hasil imbang 1-1 atau menang tipis 1-0 atau 2-1 itu mengejutkan. Tapi kalau Bali kalahnya 2-5, itu memalukan, bukan mengejutkan lagi,” kata pengamat sepakbola Tommy Welly.

“Memang dalam sepakbola selalu ada hal mengejutkan, tetapi selalu ada logika sepakbolanya. Tapi kalah dari Visakha itu sulit diterima nalar, kalah di rumah sendiri pula,” ujarnya.

Skala Prioritas

Mau untung, malah buntung. Serdadu Tridatu malah tak mendapatkan apa-apa dari kedua ajang itu karena sama-sama menemui kegagalan.

Teco memang punya riwayat yang kurang baik ketika bicara skala prioritas. Ia pernah juga menghadapi serupa saat masih menangani Persija Jakarta yang tampil di Piala AFC 2018.

Saat itu ia memilih menurunkan tim kedua Persija saat bertandang ke markas Johor Darul Takzim (JDT) lantaran laga mepet dengan final Piala Presiden 2018. Akibatnya Persija kalah telak 0-3 dari JDT.

Hal itu ternyata terulang lagi saat ia menangani Bali United. Teco tampaknya belum belajar dari pengalamannya di Persija, pramusim lagi-lagi masih menjadi prioritas ketimbang AFC Cup 2022 di mana mereka menjadi wakil Indonesia.

Padahal hasil di AFC Cup juga akan berpengaruh buat koefisien klub-klub Indonesia. Saat ini Indonesia membutuhkan tambahan poin signifikan agar bisa kembali mendapatkan slot ke Liga Champions Asia, tapi Bali United malah mengecewakan, karena cuma perkara pramusim pula.

Sedari awal Bali United sudah diingatkan untuk fokus ke AFC Cup 2022 saja ketimbang Piala Presiden 2022. PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) juga ikut mendapat kritik karena tetap menyertakan Bali United dan PSM Makassar di ajang pramusim, walaupun secara bersamaan mereka juga menjadi wakil Indonesia di ajang kontinental tersebut.

Belajar dari Tetangga

Kenyataannya, kedua tim tetap disertakan di pramusim dan Bali United tampil all-out. Padahal, jika melirik ke kompetisi tetangga, Kedah Darul Aman sampai mendapat perlakukan istimewa dari penyelenggara Liga Super Malaysia (MFL).

Saat tiba di Bali, seharusnya Kedah FC tampil melawan JDT di Liga Super Malaysia. Namun karena harus menjalani pertandingan di AFC Cup 2022, MFL dan JDT pun sepakat untuk melakukan penundaan pertandingan.

Sikap yang ditunjukkan MFL dan JDT adalah langkah yang juga seharusnya dilakukan PSSI dan PT LIB. Ada kepentingan nasional yang berada di tangan Bali United, bukannya tetap menyertakan mereka turnamen pramusim.

“Boleh saja Bali United yang kalah, tapi yang miris publik sepakbola Indonesia. Kalah di Piala AFC, masih di Zona ASEAN, bukan di Liga Champions Asia. Ini sangat memalukan,” tutur Tommy Welly. (detik.com)