Dibantainya Bali United Dinilai Jadi Peringatan Keras untuk Liga Indonesia

Juara Liga 1 2021/2022 Bali United (BU) yang mewakili Indonesia di gelaran Piala AFC 2022 harus menelan kekalahan telak 2-5 dari klub asal Kamboja, Visakha FC pada laga lanjutan matchday kedua Grup G di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Sanin (28/6). Kekalahan mencolok yang dialami Bali United sebagai juara bertahan di kompetisi tertinggi Indonesia tentu menimbulkan pertanyaan besar.

Bermain di kandang sendiri, tim berjuluk Serdadu Tridatu sebetulnya berhasil memimpin lebih dulu di menit ke-9 melalui gol Irfan Jaya. Namun, tim asuhan Meas Channa membalikkan keadaan menjadi 2-1 di paruh pertama dan memperlebar keunggulan menjadi 4-1 sebelum Bali memperkecil keteringgalan di menit ke-85 melalui gol Privat Mbarga tapi kebobolan lagi di menit ke-88 sehingga laga berakhir dengan skor 5-2.

Pengamat sepak bola Indonesia, Akmal Marhali mengatakan kemenangan beruntun wakil Kamboja di dua laga perdanamenggambarkan kompetisi sepak bola profesional Kamboja sudah berbenah. Dia bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa tata kelola kompetisi Kamboja sudah lebih baik dari Indonesia.

“Sementara kompetisi sepakbola Indonesia seperti katak dalam tempurung. Hanya euforia di dalam negeri saja,” kata Akmal kepada republika.co.id, Selasa (28/6/2022).

Koordinator Save our Soccer (SoS) itu juga menjelaskan bagaimana Kamboja mendatangkan mantan karyawan Barcelona sekaligus eks Konsultan Pemasaran AFC asal Jepang bernama Satoshi Saito sebagai CEO Liga Kamboja. Menurutnya, pengalaman yang dimiliki Satoshi menjadi modal bagus bagi Kamboja untuk mewujudkan kompetisi yang berkualitas.

“Kompetisi sepak bola Indonesia harus mengubah mindset-nya. Bukan semata gengsi lokal, tapi juga membawa harkat dan martabat bangsa di event internasional. Perubahan pola pikir dan tata kelola kompetisi yang sehat, profesional, kompetitif dan bernartabat akan membuat kompetisi Indonesia menghasilkan out put yang bagus,” katanya.

Tak jauh berbeda, komentator sepak bola Indonesia, Mohamad Kusnaeni alias Bung Kus mengaku terkejut dengan kekalahan Bali United, terlebih kekalahan dengan skor yang cukup jauh. Padahal, kata dia, Bali United termasuk salah satu tim yang performanya paling konsisten di Tanah Air setidaknya dalam dua tahun terakhir.

Di sisi lain, menurutnya ini menunjukkan bahwa kualitas sepak bola di Asia Tenggara sudah semakin merata. Artinya, kata dia, tidak ada lagi negara yang lebih superior dari negara lainnya dan tidak menutup kemungkinan tim yang tidak diunggulkqn justru bisa meraih kemenangan. Jadi setiap pertandingan ada kemungkinan untuk bisa saling mengalahkan.

“Level antara Vietnam, Thailand, Singapura, Malaysia, Indonesia itu sebetulnya sudah hampir sama, setiap saat bisa saling mengalahkan. Karena itu tidak terlalu aneh juga kalau di level klub negara-negara itu punya tim-tim yang kuat,” kata Bung Kus kepada republika.co.id, Selasa (28/6/2022).

“Visakha memang termasuk tim yang sangat kuat di Kamboja di atas tim-tim yang lain, atau ada Johor yang merupakan tim terkuat di Malaysia, tapi bukan berarti level Malaysia itu di atas negara lainnya. Jadi Timnas tidak bisa menjadi ukuran gambaran kekuatan klub-klubnya,” kata Bung Kus. Menambahkan.

Selanjutnya Bung Kus mengingatkan bahwa klub bisa diisi oleh pemain-pemain asing, yang artinya kualitas yang dibawa oleh pemain-pemain asing akan sangat membantu keberhasilan klub tersebut. “Jadi secara umum bukan berarti Timnas Kamboja berada di atas kita levelnya,” ujarnya.