Kelompok Suporter Perempuan Persis Solo: Stop Pelecehan Seksual!

Pertandingan pembuka Piala Presiden 2022 antara Persis Solo dan PSS Sleman digelar di Stadion Manahan, Sabtu (11/6) malam. Pertandingan ini dijadikan ajang oleh kelompok suporter perempuan Persis Solo, Ladies Hardline Sambernyawa, untuk mengkampanyekan ‘Stop Pelecehan Seksual’.

Sepak bola memang kerap diidentikkan sebagai olahraga laki-laki. Tak heran jika perempuan seperti salah tempat saat mencoba memasuki dunia si kulit bundar. Mulai dari pemain, pelatih, bahkan suporter wanita, tak jarang mengalami diskriminasi di sepak bola.

Pelecehan seksual bahkan tak jarang mereka terima saat berada di stadion. Misalnya saja, beberapa waktu lalu, publik tanah air dihebohkan dengan ujaran seksisme di laga eksebisi dalam pembukaan Jakarta International Stadium (JIS).

Kala itu, seorang oknum suporter melakukan catcalling kepada dokter tim Bali United U-18. Hal serupa juga kerap terjadi di tribune penonton. Suporter wanita yang hadir langsung ke stadion, kerap kali menjadi sasaran pelecehan seksual oleh sesama pendukung kesebelasan.

Pandangan buruk ini yang coba diubah oleh kelompok suporter Persis Solo, Ladies Hardline Sambernyawa. Mereka ingin preseden buruk itu perlahan-lahan sirna.

Suasana jelang pertandingan pembuka Piala Presiden 2022 antara Persis Solo vs PSS Sleman (c) Bola.net/Fitri Apriani

“Kami mau sedikit mengampanyekan pelecehan seksual terhadap perempuan biar mereka juga nyaman ke stadion,” ungkap Putri Rahman, perwakilan Ladies Hardline Sambernyawa.

“Kami ingin mengubah persepsi para perempuan. Jadi ayo ramai-ramai ke tribune. Ke stadion itu enggak seseram yang dibayangkan di luar,” sambungnya.

Putri mengakui bila pelecehan seksual tak akan serta merta hilang begitu saja dengan kampanye yang mereka lakukan. Naluri lelaki membuat oknum suporter ini melihat wanita sebagai ‘mangsa’ empuk.

Oleh karenanya, ia berharap suporter wanita juga tak mengumbar kemolekan dirinya selama di stadion. Sebab, proteksi terbaik justru ada dari dalam diri sendiri.

“Kami mensosialisasikan ke mereka supaya menjaga diri. Apa yang dipakai pasti dilihat laki-laki yang punya hawa nafsu. Jadi perempuan harus mencegah dulu. Kami juga mengampanyekan supaya perempuan pakaiannya dibetulkan agar tak menimbulkan pandangan laki-laki yang kurang bagus,” tandasnya.