Ulasan Rapor Jeblok Klub-Klub Jawa Timur di BRI Liga 1, Apa Penyebabnya?

Jawa Timur selalu dikenal sebagai barometer sepak bola nasional. Sejak era Perserikatan. Galatama, Liga Indonesia, sampai BRI Liga 1, mereka rutin menghadirkan pemain-pemain terbaik bagi Timnas Indonesia.

Beberapa klub besar tanah air juga berada di sini. Arema FC, Persik Kediri dan Persebaya Surabaya tercatat dalam buku sejarah karena berhasil mengangkat gelar di kasta tertinggi.

Selain ketiga tim tersebut, masih ada Madura United dan Persela Lamongan yang menemani mereka di kompetisi BRI Liga 1 2021/22. Keduanya juga memiliki reputasi cukup bagus sebagai salah satu tim kuda hitam di setiap musimnya.

Sayangnya, dua tim terakhir yang disebutkan tak bisa mengulang kejayaan mereka seperti sebelum-sebelumnya. Mereka kesulitan bersaing di level teratas dan terpaksa berkubang di papan bawah.

Bahkan boleh dikatakan hanya Persebaya dan Arema FC yang sanggup menjaga harkat dan martabat Jawa Timur. Sementara Persik terlampau jauh mengejar papan atas setelah awal musim yang berat.

Lantas, apa yang menyebabkan Madura United dan Persela gagal mengulang kejutan yang biasa mereka hadirkan di BRI Liga 1? Berikut ulasan selengkapnya.

Madura United Kehilangan Penyerang Elite

Tak bisa dimungkiri, sumber keterpurukan Madura United di BRI Liga 1 musim ini terletak di lini depan yang mandul. Saat masih ditangani Rahmad Darmawan, mereka hanya sanggup mengemas 13 gol dalam 12 pertandingan awal.

Kehilangan Alberto Goncalves, Greg Nwokolo, Bruno Matos dan Emmanuel Oti, sekaligus tak bisa ditutup seorang Rafel Silva seorang diri. Pelatih yang akrab disapa RD itu tampak kelimpungan menemukan formasi yang pakem untuk mendapatkan lebih banyak gol.

Tetapi kehadiran Fabio Lefundes berdampak cukup positif. Pelatih asal Brasil itu sanggup memaksimalkan lini serang Madura United. Kepulangan Alberto Gonvalves dan Greg Nwokolo plus rekrutan baru dalam diri Renan Silva membuat segalanya tampak lebih baik.

Sayangnya, kualitas pertahanan sedikit menurun dengan cederanya M. Ridho. Hong Jung-nam yang didatangkan di paruh musim membutuhkan waktu untuk beradaptasi di lingkungan baru. Tetapi di sisi lain, ia pun dituntut untuk mampu mengatur empat bek sejajar di depannya.

Skuad Minimalis Persela Kehilangan Magis Surajaya

Persela mengawali kompetisi musim ini dengan sangat buruk. Tak ada pergerakan berarti di bursa transfer saat mereka kehilangan pemain penting seperti Eky Taufik, Sugeng Efendi hingga Lucky Wahyu.

Iwan Setiawan yang menangani mereka di awal musim terpaksa berimprovisasi dengan mengandalkan banyak pemain muda. Apesnya lagi, mereka kehilangan sentuhan dalam perekrutan pemain asing seperti musim-musim sebelumnya.

Jafri Sastra yang meneruskan tongkat estafet kepelatihan, mendapatkan kesempatan belanja di bursa transfer tengah musim. Tetapi rekrutan mereka kebanyakan pemain-pemain yang sebelumnya bermain di kasta kedua.

Skuad minimalis ini pun kelimpungan menghadapi klub-klub lain, meski beberapa kali masih sanggup mengimbangi mereka. Tanpa magis Surajaya, Persela kehilangan kemampuan memenangkan pertandingan.

Catatan 23 laga terakhir tanpa kemenangan seolah menjadi bukti pas ketidakpantasan mereka berada di level teratas. Setelah 18 tahun, Persela resmi terdegradasi ke kasta kedua musim depan.