Di Ambang Degradasi BRI Liga 1, Persela Tak Mau Gantungkan Harapan ke Tim Lain

Persela Lamongan benar-benar berada di ujung tanduk. Hasil imbang 2-2 kontra PSM Makassar pada pekan ke-31 BRI Liga 1 2021/22 semakin mendekatkan mereka ke kasta kedua.

Dalam pertandingan yang berlangsung di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Senin (14/3/2022) sore, Persela Lamongan sebenarnya mampu unggul lebih dulu lewat tandukan Jose Wilkson di menit ke-9. Tetapi tiga menit berselang, Willem Jan Pluim berhasil menyamakan angka.

PSM lantas menyengat di awal babak kedua setelah Yakob Sayuri mencetak gol di menit ke-48. Namun, Persela berhasil memaksakan hasil imbang lewat sontekan Moch. Zaenuri di menit ke-70 dalam situasi bola mati.

Hasil ini tak membuat posisi Persela di papan klasemen berubah. Mereka masih berada di urutan kedua dari bawah dengan 21 poin atau berjarak tujuh angka dari Barito Putera yang menghuni zona aman.

“Kami sudah bekerja keras untuk memenangkan pertandingan, tetapi belum dikasih kemenangan. Tetapi yang jelas Persela posisi tadi harus menang. Kami sudah kasih motivasi ke pemain, tidak ada seri ataupun kalah,” buka pelatih karteker Persela Lamongan, Ragil Sudirman.

Persela bisa lebih cepat memastikan degradasi dari BRI Liga 1 2021/2022 jika Barito Putera mengalahkan Persebaya Surabaya. Tetapi tim asal Kalimantan itu hanya mampu meraih hasil imbang

Pelatih yang baru memiliki lisensi B nasional ini bukan tak menyadari hal tersebut. Tetapi baginya, tak bijak bila klub berjuluk Laskar Joko Tingkir itu harus menggantungkan harapan ke tim lain.

“Jadi yang jelas kami menunggu hasil pertandingan mereka (Barito vs Persebaya). Kami tetap mengharapkan tetapi kalau kami menggantungkan ke tim lawan juga sebenarnya tidak bisa. Tetap kami harus fokus ke tim sendiri dulu,” jelasnya.

Sejak terakhir kali Persela menang atas Persik Kediri di seri ketiga BRI Liga 1 2021/2022, mereka tak pernah lagi dinaungi dewi fortuna. Dalam 22 laga beruntung setelahnya termasuk kontra PSM, mereka tak bisa meraih tiga angka penuh.

Catatan ini merupakan yang terburuk sepanjang sejarah Liga 1. Tak ada tim manapun yang lebih apes dari klub asal Kota Soto tersebut sejak kompetisi mulai menggunakan nama Liga 1 pada 2017 lalu.

“Namanya juga main bola. Kami mau enggak mau harus menerima hasilnya meskipun dengan kekecewaan,” tandasnya.