Transfer Pratama Arhan Buktikan Kedekatan Kultur Sepak Bola Indonesia dengan Jepang

Kedatangan Pratama Arhan ke Tokyo Verdy membuktikan bahwa kultur sepakbola Indonesia sebenarnya sudah sangat dekat dengan sepakbola Jepang sejak lama.

Pratama Arhan resmi akan berseragam klub kasta kedua Liga Jepang (J2 League), Tokyo Verdy.

Pratama Arhan datang dengan status free transfer dari PSIS Semarang.

Rencananya Pratama Arhan bakal dikontrak selama dua musim di Tokyo Verdy.

Pratama Arhan adalah nama pemain timnas Indonesia keempat yang direkrut oleh klub Liga Jepang setelah Ricky Yakobi, Stefano Lilipaly, dan Irfan Bachdim.

Nama-nama tersebut menjadi secuil dari sekian banyak kedekatan kultur sepak bola Indonesia dengan Jepang, baik dari segi budaya populer hingga jejak pemain Jepang ke Liga Indonesia.

Kedekatan kultural sepak bola Indonesia dengan Jepang terlihat dari kemiripan konsep kompetisi J-League dengan Galatama.

Kompetisi Liga Galatama dicetuskan pada 1979 oleh ketua PSSI saat itu, Ali Sadikin.

Peserta Galatama waktu itu diikuti oleh klub-klub dari korporasi, terutama dari perusahaan plat merah (BUMN).

Jepang, yang saat itu belum punya kultur sepak bola yang mumpuni, sempat mendatangkan perwakilannya ke Indonesia untuk mempelajari model pengelolaan Liga Galatama.

Sampai ke Jepang, perwakilan tersebut membentuk kompetisi profesional baru bernama J-League pada 1992 yang pesertanya merupakan klub-klub milik korporasi bahkan hingga sekarang.

Namun sayangnya, popularitas kompetisi Liga Galatama justru menurun dan disatukan dengan Liga Perserikatan pada 1994.

Di lain pihak, J-League jadi liga paling top di benua Asia.

Kedekatan lainnya tentu dari budaya populer, khususnya tayangan sepak bola Liga Jepang dan anime dengan tema sepak bola.

Generasi 1990 dan 2000-an pasti pernah menikmati tayangan anime Captain Tsubasa di televisi Indonesia atau membacanya lewat manga.

Inspirasi karakter Captain Tsubasa sendiri muncul dari perjalanan karier legenda Tokyo Verdy ketika dulu masih bernama Verdy Kawasaki, Kazuyoshi Miura.

Kazuyoshi Miura pada tahun 1990-an adalah role model bagi pemain Jepang lainnya untuk berkarier ke luar negeri.

Pencinta anime juga tidak lupa dengan serial Inazuma Eleven dan Giant Killing yang datang setelahnya.

Pada musim 2003, salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia juga pernah menayangkan siaran langsung J-League tiap Sabtu sore.

Saat itu, klub baru Pratama Arhan, Tokyo Verdy dan Jubilo Iwata, jadi klub yang paling diingat oleh publik Indonesia karena prestasinya yang mengilap sejak periode 1990-an.

Tak mengherankan setelah kedatangan Pratama Arhan, banyak publik Indonesia generasi 1990-an yang bernostalgia dengan Tokyo Verdy.

Follower klub Tokyo Verdy di Instagram juga melejit jadi yang tertinggi di antara seluruh klub Liga Jepang hanya dalam 48 jam setelah kedatangan Pratama Arhan.

Penulis juga punya kenalan yang sedang berkuliah di Jepang yangbercerita bahwa ia jauh-jauh pergi dari kampusnya ke Ajinomoto Stadium, markas Tokyo Verdy, untuk berburu jersey Pratama Arhan.

Ternyata setelah sampai toko resmi klub, jersey Tokyo Verdy tersebut sudah habis dan harus menunggu beberapa hari lagi untuk dijual.

Berdasarkan informasi, satu jersey lengkap dengan nama Pratama Arhan berharga 2,5 juta rupiah belum termasuk ongkos kirim.

Di kompetisi Liga Indonesia sejak tahun 2000-an, pemain Jepang merupakan komoditas panas yang diburu klub-klub selain negara-negara Amerika Latin dan Afrika.

Musim ini saja, ada Taisei Marukawa, Kei Hiroshe, Renshi Yamaguchi, Takuya Matsunaga, dan Shori Murata yang direkrut oleh klub-klub Indonesia.

Belum lagi dulu ada nama-nama pemain seperti Taka Uchida, Kenji Adachihara, Shohei Matsunaga, Satoshi Otomo, Tomoyuki Sakai, dan sebagainya.

Para pemain Jepang sudah membuktikan bahwa mereka tidak datang hanya karena diuntungkan regulasi Liga Indonesia yang menyediakan slot khusus Asia.

Kualitas dan determinasi mereka di lapangan membuat klub-klub jatuh hati pada para pemain Jepang.

Hal ini berbeda dengan transfer Asnawi Mangkualam ke Ansan Greeners, yang kedatangannya di Korea Selatan tidak memicu perbincangan sepanas Pratama Arhan ke Jepang,

Selain karena faktor klub yang tidak sekondang Tokyo Verdy, Korsel memang jarang menghasilkan “drama Korea” bernuansa sepak bola atau sajian siaran Liga Korea Selatan di Indonesia yang dekat dengan ingatan kolektif pencinta sepak bola di Indonesia.

Satu-satunya momen di mana televisi Indonesia menyiarkan siaran sepak bola dari stadion-stadion di Korea Selatan mungkin di ajang Piala Dunia 2002 saat Korsel dan Jepang jadi tuan rumah.

Semoga kehadiran Pratama Arhan benar-benar jadi sosok Tsubasa Ozora atau Kazuyoshi Miura bagi pesepak bola Indonesia masa kini untuk berani tampil di luar negeri. (Bolasport.com)