Kisah Pratama Arhan, Anak Tukang Sayur Menuju Liga Jepang: Ibunda Sempat Ngutang Beli Sepatu supaya Anak Ikut Turnamen

Pratama Arhan resmi bergabung dengan klub Jepang, Tokyo Verdy. Pemain berusia 20 tahun itu diperkenalkan sebagai pemain anyar Tokyo Verdy, Rabu (16/2/2022).

Di klub asal ibu kota Jepang itu, Pratama Arhan mendapatkan kontrak selama dua tahun. Sebelumnya, ia adalah pemain andalan PSIS Semarang dengan karier yang melesar hingga ke level Timnas Indonesia senior.

Keputusannya bermain di Jepang sekaligus bakal jadi pengalaman perdana Pratama Arhan di klub luar negeri. Kepindahannya juga mengakhiri rangkaian rumor yang sempat menghampirinya usai gelaran Piala AFF 2020.

Di sisi lain, tidak banyak tahu tentang kisah hidup seorang Pratama Arhan yang berasal dari keluarga sederhana. Meski demikian, orang tuanya tetap memberikan dukungan yang luar biasa agar Arhan tetap menekuni sepak bola.

Ibu Pratama Arhan , Surati membagikan kisah masa kecil putranya yang sekarang mewujudkan mimpi berkiprah di Jepang. Perjuangan dan pengorbanan besar dilakukannya agar Arhan bisa sukses di lapangan hijau.

Arhan berasal dari keluarga yang jauh dari kata mampu. Dia merupakan anak tukang sayur yang tinggal di rumah sederhana. Ibu Arhan seorang pedagang sayur keliling, sedangkan ayahnya pekerja serabutan.

“Arhan dari kelas dua SD udah main bola plastik di depan rumah tetangga dengan anak-anak yang lain, karena di sini tidak ada lapangan bola,” kenang Surati, dilansir dari Youtube belum lama ini.

Dalam kurun satu tahun terakhir, nama Pratama Arhan sedang menjadi perbincangan publik sepak bola nasional hingga Asia Tenggara. Pasalnya, ia menampilkan performa bagus selama mengikuti Piala AFF 2020 bersama skuad Garuda, bahkan terpilih menjadi pemain muda terbaik turnamen.

Kualitas yang dimiliki Arhan tidak didapat begitu saja. Dia mengasah kemampuannya bersama SSB Putera Mustika di Blora. Saat Arhan kecil juga tidak pernah absen mengikuti latihan di SSB-nya. Hujan dan panas terik tidak menjadi alasan baginya untuk membolos latihan.

“Dia itu walaupun hujan, walaupun terik, tidak pernah bolos sekolah bola. Satu minggu itu tiga kali dia masuk terus, enggak pernah absen latihan sepak bolanya,” sambung Surati.

Momen menarik datang saat Arhan bersama SSB-nya, Arhan pernah kesulitan membeli sepatu sepak bola. Dia bahkan pernah bermain dengan sepatu sepak bola seharga Rp25 ribu.

Kondisi ekonomi keluarga membuat Arhan kesulitan mendapat perlengkapan latihan. Kedua orang tuanya juga sampai harus menjual barang terlebih dahulu untuk dapat membelikan putra kesayangannya itu sepatu bola atau ikut turnamen.

“Dulu kami memang susah sekali, utang sana-sini. Dulu dia tidak punya sepatu, tidak punya 25 ribu, dan itu pun sekali dipakai sudah jebol,” lanjut dia.

“Ibu juga kalau ada turnamen sering berutang untuk biaya turnamen itu. Karena itu demi kebaikan Arhan sendiri,” tukas Surati.