Soal Empat Pemain, Shin Tae-Yong Soroti Pengelolaan Piala AFF 2020

Pelatih timnas Indonesia Shin Tae-yong menyoroti pengelolaan Piala AFF 2020 yang membuat skuad Garuda tidak dapat menurunkan empat pemainnya dalam pertandingan final leg kedua melawan Thailand, Sabtu (1/1) malam WIB, di Stadion National.

Indonesia harus kehilangan Elkan Baggott dan Rizky Ridho yang kerap mengisi posisi starter, serta Victor Igbonefo dan Rizky Dwi Febrianto, karena mendapat larangan tampil dari pemerintah Singapura.

Larangan itu diberikan pemerintah setempat setelah berkoodinasi dengan federasi sepakbola Singapura (FAS) dan federasi sepakbola Asia Tenggara (AFF). Mereka dilarang tampil, karena terbukti meninggalkan hotel pada malam hari selama dua jam di saat turnamen sedang berlangsung.

Tae-yong mengungkapkan kekecewaannya terhadap keputusan itu. Kendati demikian, ia memaklumi kebijakan yang diterapkan pemerintah Singapura dalam upaya mereka menekan penyebaran COVID-19, terutama dengan adanya varian baru Omicron.

“Saya sangat kecewa sekali mendapat kabar itu. Tapi saya ingin ucapkan terima kasih kepada pemerintah Singapura, FAS, dan AFF yang telah mengizinkan kami menjalani pertandingan turnamen ini di Singapura di tengah pandemi,” tutur Tae-yong.

“Namun ada satu hal yang perlu disorot yang menjadi perhatian saya, yakni kebijakan administrasi dan organisasi. Beberapa saat setelah sarapan hari ini (kemarin), kami diberitahu empat pemain tak bisa dimainkan di pertandingan ini.”

“Saya tahu masalah yang kami hadapi. Keempat pemain itu keluar untuk membeli keperluan sehari-hari, seperti sampo dan sabun, karena kami kehabisan keperluan tersebut setelah kami selalu berada di hotel selama satu bulan. Kami juga sudah dikasih tahu soal adanya denda yang harus dibayar, dan saya memahami itu.”

Selain itu, juru taktik asal Korea Selatan tersebut juga mempertanyakan pengelolaan turnamen, terutama berkaitan dengan tempat penginapan. Menurutnya, timnas Indonesia tidak sendirian mengisi dua lantai di Hotel Orchard.

Timnas senior menempati kamar di lantai 7 dan 8. Namun mereka juga harus berbaur dengan pengunjung lainnya yang menginap di kedua lantai hotel itu. Akibatnya, pemain merasa tidak nyaman.

“Dua lantai, yaitu lantai 7 dan 8, tidak hanya digunakan untuk kami saja, dan itu berbanding terbalik dengan pemberitahuan yang kami terima ketika memasuki Singapura. Ada tamu umum juga yang tinggal di lantai yang sama, dan membuat kegaduhan pada malam hari,” beber Tae-yong.

“Saat akhir pekan, ketika ada pesta pernikahan di hotel, beberapa tamu hotel naik ke lantai kami dan membuat kegaduhan, serta mabuk-mabukan, sehingga pemain tidak bisa beristarahat dengan nyaman.”

“Permasalahan seperti ini seharusnya dapat diatasi dengan rapi untuk membuat pemain kami nyaman, dan menjalani pertandingan dengan baik. Masalah ini menjadi hal yang perlu mendapat perhatian. Jadi saya merasa kecewa empat pemain tidak bisa dimainkan.”