Javier Roca Akan Beri Peran Baru untuk Striker Muda Persik

Persik Kediri terus menggenjot persiapan menghadapi lanjutan BRI Liga 1 2021/2022, untuk putaran kedua yang akan dimainkan awal Januari mendatang. Program latihan sudah dilakukan tim berjulukan Macan Putih di Bali sejak beberapa hari terakhir.

Pelatih Persik Kediri, Javier Roca terus melakukan improvisasi untuk memantapkan performa Persik di putaran kedua BRI Liga 1. Satu di antara terobosan pelatih Persik asal Chile adalah dengan memberi posisi baru untuk Septian Satria Bagaskara.

Striker muda idola publik Kediri ini bakal ditempatkan sebagai penyerang sayap. Saat ini Javier terus menggembleng Bagas agar paham memerankan tugasnya. Tujuan sosok penghobi keris ini agar Bagas bisa menempati lebih dari dua posisi di permainan.

“Sebenarnya Bagas itu pemain bagus. Saya lihat dia tipe seorang striker murni. Tapi saya akan coba dia di sayap,” kata Javier Roca.

“Sepak bola moderen tak mengenal lagi pemain spesialis. Sekarang pemain dituntut bisa bermain minimal di dua posisi,” tuturnya.

Jika Bagas jadi pemain spesialis malah bisa mematikan karirnya. Apalagi Persik memiliki striker asing asal Spanyol, Youssef Ezzejjari yang sulit digeser Bagas.

“Tren penyerang sayap saat ini tidak harus bertubuh kecil. Bagas punya potensi jadi sayap. Saya lihat dia memiliki kecepatan, dribel bagus, dan akselerasi tinggi,” jelasnya.

Soal Bagas, tampaknya Javier Roca tak mau bakat putra daerah ini meredup. “Saya ingin dia dapat menit bermain lebih banyak. Dia masih muda dan butuh jam terbang. Sayang kalau bakatnya hilang, sebelum dia bisa berkembang,” pungkasnya.

Sementara itu, keputusan pelatih Javier Roca menggelar TC untuk pemain Persik Kediri di Bali sangat tepat. Selain memantapkan persiapan tim, program ini sekaligus adaptasi cuaca jelang diputarnya seri keempat dan kelima BRI Liga 1 2021-2022.

Saat jumpa pers daring yang dilaksanakan manajemen Persik, Senin (27/12/2021), Javier Roca mengungkapkan humidity alias kelembaban udara di Bali lebih tinggi dibanding wilayah Yogyakarta dan Jateng saat dihelatnya seri kedua dan ketiga lalu. Termasuk bila dibandingkan Kediri.

“Humidity di Bali berbeda dari kota-kota tempat kita bermain di seri sebelumnya. Juga lebih tinggi dibanding Kediri. Saya kira pemain juga harus adaptasi dengan cuaca di sini (Bali),” katanya.

Faktor kelembaban itu, lanjut Roca, bisa diamati dari konsumsi air minum saat pemain Persik Kediri latihan pagi dan sore hari di Lapangan Beji Pecatu, Bali.

“Biasanya kami habiskan satu dos air mineral saat latihan. Sekarang kebutuhan air minum bisa dua sampai tiga dos. Artinya, pemain perlu asupan cairan lebih banyak, karena pengaruh kelembaban udara tinggi,” tegasnya (bola.com)