Sepak Terjang Mitra Kukar: Dari Kalahkan Arsenal, Gantikan Persija hingga ke Liga 3

Sepak terjang Mitra Kukar di sepak bola Indonesia bisa dibilang cukup mentereng, mulai dari bisa kalahkan Arsenal hingga berpotensi gantikan Persija Jakarta.

Nasib tragis harus dialami oleh Mitra Kukar, yang merupakan salah satu klub ternama di sepak bola Indonesia. Mitra Kukar harus terdegradasi ke Liga 3 musim depan, setelah menempati juru kunci Grup D Liga 2 2021 dengan 12 poin dari 10 laga.

Poin Mitra Kukar sebenarnya sama dengan PSBS Biak di atas mereka. Sayang, mereka kalah head to head sehingga harus turun kasta.

Dari 10 pertandingan, Mitra Kukar hanya mampu meraih 12 poin hasil dari tiga kali menang, 3 kali imbang dan 4 kali menelan kekalahan.

Selain Mitra Kukar, ada beberapa tim lain yang harus degradasi mereka adalah KS Tiga Naga, Badak Lampung FC dan Hizbul Wathan.

Terpuruknya Mitra Kukar musim ini jelas membuat para pencinta sepak bola Nasional cukup kaget. Pasalnya tim berjuluk Naga Mekes itu merupakan salah satu tim populer dengan sejarah panjang di kancah bal-balan Tanah Air.

Sebelum menjadi wakil Kalimantan Timur, Surabaya adalah tempat lahirnya Mitra Kukar. Semula namanya adalah Niac Mitra di tahun 1979, namun dikenal dengan Mitra Surabaya.

Di era Galatama, Niac Mitra tergolong klub yang disegani dengan raihan tiga gelar. Mereka bahkan pernah mengalahkan Arsenal 2-0, dalam laga persahabatan pada 16 Juni 1983 lalu di Stadion Gelora 10 November.

Namun nasib sial harus dialami oleh Niac Mitra, karena pada tahun 1999 mereka harus turun kasta dari Divisi Utama ke Divisi Satu Liga Indonesia.

Klub ini kemudian dibeli oleh pengusaha asal Banjarmasin pemilik Barito Putera, Sulaiman HB dan pindah markas ke Kalimantan Tengah tepatnya Palangkaraya, dengan nama baru Mitra Kalteng Putra (MKP).

Hanya bertahan selama empat tahun membiayai Mitra Kalteng, klub ini lalu harus terseok-seok karena kesulitan finansial.

Pada tahun 2003, dijual ke pengusaha asal Kutai Kartanegara dengan nilai Rp1,5 miliar dan berganti nama menjadi Mitra Kutar Kartanegara (Kukar) sejak tahun 2005.

Performa Mitra Kukar di era sepak bola profesional Indonesia yang kompetisinya berjalan tanpa dana APBD dimulai dari era Indonesia Super League (ISL).

Pada musim 2013 mereka mampu menembus tiga besar di akhir musim. Musim selanjutnya bertahan di 8 besar ISL. Tidak hanya di kompetisi liga, di turnamen pramusim mereka juga tampil perkasa.

Tercatat beberapa turnamen mampu mereka menangkan, seperti menjadi juara Piala Sudirman 2015, dan masuk 10 besar Indonesia Soccer Championship (ISC A).

Sementara di era Liga 1, Mitra Kukar juga mampu bersaing. Mereka selalu menempati tim papan tengah. Di Liga 1 2017 finis di peringkat 10.

Namun secara mengejutkan di musim selanjutnya penampilan Mitra Kukar begitu buruk. Mereka tak mampu keluar dari zona degradasi, yang akhirnya terjun ke Liga 2 untuk musim 2019.

Prestasi anjlok Mitra Kukar belum juga berakhir. Mereka harus turun kasta dari Liga 2 ke Liga 3 untuk musim 2022 mendatang.

Berlaganya Mitra Kukar di Liga 3 tentu sangat disayangkan. Pasalnya mereka berpotensi akan menjadi klub ibu kota menggantikan Persija Jakarta.

Hal itu tidak lepas dari wacana pemindahan Ibu Kota Indonesia, dari Jakarta ke Kalimantan Timur oleh pemerintah Jokowi yang tengah digarap dalam beberapa tahun mendatang.

“Sekarang (nanti) jadi tim ibu kota ya,” kata Agri Winata selaku Media Officer Mitra Kukar.

Status pemindahan itu menyita perhatian warganet. Beragam komentar mereka ucapakna mulai dari ucapan selamat hingga doa untuk segara promosi ke Liga 1. (Indosport)