Penyebab Buruknya Performa PSG Pati di Liga 2 Musim Ini

Perhelatan kompetisi sepak bola kasta kedua di Indonesia, Liga 2 musim 2021 ini sangat menyita perhatian publik setelah banyak publik figure Tanah Air yang ikut mewarnai menjadi pemilik klub.

Setelah Raffi Ahmad yang mengakuisisi Cilegon United menjadi Rans Cilegon FC, ada juga Youtuber ternama Atta Halilintar bersama pengusaha, Putra Siregar mengakuisisi klub PSG Pati.

Usai menjadi pemilik baru, Atta Halilintar memiliki niat untuk mengganti nama klub menjadi AHHA PS Pati. Namun niatan tersebut terbentur aturan dari PSSI. Akhirnya nama PSG Pati tetap dipakai untuk kompetisi Liga 2 2021.

Sokongan dana yang melimpah dari pemilik dan banjirnya sponsor, membuat PSG Pati menjadi salah satu tim bertarbur bintang dalam perhelatan Liga 2 2021.

Sejumlah nama berlabel mantan pemain Liga 1 dan Timnas Indonesia turut diboyong oleh klub berjuluk Kuda Hitam Saridin.

Para pemain rekrutan itu adalah, yakni eks pemain Timnas Indonesia Nurhidayat Haji Haris, Yudha Febrian, Sutan Zico, dan Zulham Zamrun. Ada juga eks Arema FC Syaiful Indra Cahya, serta eks Sriwijaya FC Risky Novriansyah.

Dengan materi pemain yang mentereng tentu PSG Pati berharap bisa meraih hasil yang baik di kancah sepak bola nasional.

Namun seiring berjalannya kompetisi, harapan tersebut gagal terwujud. Pasalnya PSG Pati justru tampil menjadi tim pesakitan.

Tergabung di Grup C bersama Persis Solo, PSIM Yogyakarta, PSCS Cilacap, Persijap Jepara, dan PS Hizbul Wathan, PSG Pati kesulitan bersaing.

Mereka saat ini menempati urutan ke-5 klasemen sementara Grup C Liga 2, dan sudah dipastikan tidak akan bisa lolos ke babak 8 besar.

Mereka tengah berjuang untuk lolos dari degradasi, karena saat ini poinnya hanya berselisih satu (4 poin) dari Hizbul Wathan yang berada di dasar klasemen dengan poin 3 dari 9 laga (menyisakan satu laga lagi).

PSG Pati sempat berbenah pada putaran kedua, yakni mengganti pelatih dari Ibnu Grahan kepada eks Persik Kediri Joko Susilo, kemudian juga mendatangkan pemain naturalisasi Osas Saha dan pemain muda berbakat asal Aceh, Muhammad Fayrushi.

Akan tetapi perombakan yang dilakukan oleh manajemen itu belum mampu mengangkat performa PSG Pati hingga saat ini. Klub milik suami Aurel Hermansyah itupun harus berjuang hingga pertandingan terakhir melawan Hizbul Wathan.

Lantas apa yang membuat buruknya performa PSG Pati di Liga 2 musim ini?

Skuad PSG Pati yang banyak dihuni pemain berpengalaman di sepak bola Indonesia, justru tidak mencerminkan mereka sebagai pesepakbola profesional ternama.

Sebab dari sekian pemain bintang PSG Pati, terdapat beberapa nama yang memiliki masalah emosional di lapangan.

Hal itu dibuktikan dengan permainan kasar di beberapa pertandingan seperti salah satunya laga uji coba melawan Persiraja Banda Aceh, di Lapangan Pancoran Soccer Field (08/09/21).

Salah satu insiden itu melibatkan Syaiful Indra Cahya yang mengangkat kaki terlalu tinggi saat menyapu bola, sehingga kakinya dengan telak menghajar wajah pemain Persiraja, Muhammad Nadhiif.

Syaiful Indra Cahya, yang bermain untuk PSG Pati, harus menerima kartu merah akibat pelanggaran tersebut. Begitu juga dengan Zulham Zamrun di laga tersebut yang melakukand dua pelanggaran keras secara beruntun.

Permainan kasar tersebut rupanya di bawa hingga pertandingan Liga 2. Tebaru, Zulham Zamrun harus mendapat kartu merah akibat permainan kasarnya saat melawan PSIM Yogyakarta.

Hukuman kartu merah itu tentu merugikan PSG Pati, karena mereka kehilangan sang kapten di laga hidup mati melawan Hizbul Wathan.

Penderitaan PSG Pati tidak hanya di dalam lapangan karena ulah pemainnya, tapi juga menjalan hingga ke luar lapangan.

Mereka harus menerima hukuman oleh Komdis PSSI, akibat melanggar regulasi dengan menurunkan pemain ilegal yaitu I Gede Sukadan, saat melawan Persis Solo (03/11/21).

Gelandang asal Bali itu diketahui dalam status menjalani hukuman larangan bertanding.

Konsekuensi dari pelanggaran itu sangat berat. Komisi Disiplin PSSI lantas menjatuhkan sanksi pengurangan poin sebanyak 3 poin dan denda uang sebesar Rp90 juta.

Akibatnya kini PSG Pati harus melorot ke urutan ke-5 atau satu strip di atas zona merah yang ditempati oleh Hizbul Wathan.

Pelatih Joko Susilo menyebut masih banyak kendala lain yang dialami oleh timnya sehingga menambah beban yang berimbas pada prestasi klub.

“Sebenarnya kami tidak layak di posisi ini. Tapi kami tidak akan pernah menyerah,” ungkap pelatih klub Liga 2, PSG Pati, Joko Susilo.