3 Hal yang Wajib PSM Dibenahi Bila Ingin Bersaing Meraih Trofi Juara BRI Liga 1

CEO Makassar, , pada berbagai kesempatan mengaku belum belum puas dengan penampilan timnya pada dua seri BRI atau 11 laga yang telah mereka jalani.

Pernyataan , sapaan akrabnya, menyiratkan manajemen tim kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan ini bakal aktif pada bursa pemain Desember mendatang untuk bersaing di papan atas.

Artinya, penampilan skuad Juku Eja di Seri 3 dijadikan bahan evaluasi tim.

Dihubungi Bola.com, Selasa (16/11/2021), eks Direktur Teknik PSM era , Mirdan Midding, menilai secara teknis, PSM sejatinya pantas bersaing dengan tim kandidat lainnya untuk bersaing meraih trofi juara. Sayang, penampilan PSM cenderung naik dan turun alias tidak konsisten.

“Itu karena mayoritas pemain PSM tidak didukung stamina dan fisik yang prima untuk bermain dengan strategi menyerang tempo tinggi ala coach Milomir Seslija,” ungkap Mirdan.

Mirdan merujuk produktivitas gol PSM Makassar yang terbilang baik yakni 15 gol dalam 11 laga. Tapi, pertahanan PSM juga rawan, terbukti dengan kebobolan 13 gol. Mirdan pun menilai ada tiga hal yang harus dibenahi PSM bila ingin bersaing meraih trofi juara BRI Liga 1. Berikut ulasannya:

1. Fisik dan Stamina

Mayoritas pemain PSM Makassar tidak memiliki fisik dan stamina yang prima. Kelemahan ini berdampak pada penampilan pemain yang tidak konsisten disetiap laga.

Apalagi pelatih Milomir Seslija kesulitan melakukan rotasi karena kualitas pemain yang tidak merata ditengah harapan meraih prestasi dari manejemen dan .

“Kerap terlihat pergerakan pemain di bawah standar normal karena fisik tak memadai,” terang Mirdan.

Faktor fisik dan stamina melorot pula yang membuat pemain kehilangan konsentrasi sehingga membuang peluang yang tercipta.

“Tendangan melebar atau terlambat mengantisipasi arah bola kerap terjadi karena kehilangan fokus dan konsentrasi. Faktor ini juga yang membuat PSM kesulitan tampil konsisten sepanjang laga dan membuat mereka kesulitan bila dalam situasi tertinggal,” tegas Mirdan.

2. Perubahan Taktik

Dalam 11 laga, PSM memang lebih banyak bermain dengan pola 4-3-3 atau memainkan empat bek sejajar. Tapi, dalam dua laga terakhir, pelatih Milomir Seslija memainkan tiga bek sejajar dengan formasi dasar 3-5-2.

Hasilnya, PSM melibas tiga gol tanpa balas di pekan ke-10, tapi ditekuk Bayangkara FC dengan skor 0-2 pada laga selanjutnya.

“Saya melihat coach Milomir Seslija merubah polanya karena materi pemain terbatas dan menurunnya ketajaman lini depan. Khususnya Anco Jansen yang diplot sebagai striker utama,” tutur Mirdan.

Mirdan menambahkan, pola 3-5-2 butuh pemain sayap berkualitas dengan fisik di atas rata-rata karena beban pergerakan pemain kedua sisi sayap lebih berat dibandingkan posisi lainnya.

“Mereka juga harus ditopang oleh gelandang bertahan atau jangkar yang memiliki pergerakan dan pembacaan bola yang baik,” papar Mirdan.

3. Transisi Permainan Belum Optimal

Fisik, stamina dan rotasi yang belum optimal karena materi pemain tak mendukung membuat penampilan PSM kerap tak konsisten. Yang mencolok adalah kelemahan saat terjadi transisi cepat yang dilakukan tim lawan.

“Saat pemain tim lawan merebut bola dan membangun serangan cepat, terlihat satu atau dua pemain yang pergerakannya lamban untuk menutup daerah. Malah ada yang jalan kaki,” tegas Mirdan.

Alhasil, kerap tercipta ruang kosong di area pertahanan yang membuat bek PSM harus bekerja keras meredam serangan lawan.

“Pada sejumlah momen, kerap PSM justru terlihat kalah jumlah pemain justru saat bertahan. Ini PR besar buat pelatih. Solusi terbaik adalah merombak materi pemain, khususnya striker dan gelandang. Tapi, semuanya dikembalikan target manajemen, apakah hanya sekadar bertahan atau berambisi meraih juara trofi juara.” pungkas Mirdan.

Berita Terkait