Pawang Hujan, “Teknologi” Kearifan Lokal yang Bersinergi dengan BRI Liga 1 2021-2022

Kehidupan manusia tidak bisa lepas dari teknologi. Bukan hanya untuk menunjang hidup manusia, ‘serangan’ teknologi juga merambah dunia sepak bola dalam beberapa tahun terakhir.

Berbagai teknologi pembantu diciptakan untuk meningkatkan kualitas sebuah kompetisi sepak bola.

Mulai dari alat komunikasi , teknologi garis gawang, EPTS (pelacak performa dan statistik di dalam lapangan), hingga VAR.

Sepak juga sudah membuka diri dengan teknologi. Dimulai dari pengadaan alat komunikasi wasit, kini muncul wacana pengadaan VAR atau video pembantu wasit.

Akan tetapi, di tengah upaya memodernisasi, sepak bola juga masih setia dengan kearifan lokal.

Salah satu diantaranya adalah pawang hujan. Sebuah “teknologi” berbasis metafisika yang menembus batas-batas keilmuan dan teknologi modern.

Sebagai negara tropis, hujan ibarat “hadiah” tahunan warga Indonesia.

Namun, jika curah hujan yang turun terlalu tinggi, kondisi ini bisa menggangu jalannya pertandingan. Di situlah jasa pawang hujan terpakai.

Sesaji yang disiapkan pawang hujan diletakan di bawah tribun guna untuk mengurangi peluang turunnya hujan saat berlangsungnya pertandingan.

Sesaji yang disiapkan pawang hujan diletakan di bawah tribun guna untuk mengurangi peluang turunnya hujan saat berlangsungnya pertandingan. (KOMPAS.com/Suci Rahayu)

Secara sederhana, pawang hujan berguna untuk mengurangi peluang turunnya hujan saat pertandingan berlangsung.

Dalam penyelenggaraan agenda besar sepak bola nasional, pawang hujan ini selalu dicari.

Khususnya, pada saat musim penghujan seperti sekarang ini.

Boleh percaya atau tidak, BRI 2021-2022 yang telah melewati 11 pekan juga menggunakan pawang hujan.

Hampir seluruh Stadion yang digunakan venue pertandingan memakai jasa mereka.

Salah satu buktinya adalah sisa-sisa benda ritual semacam sesajen berisi dupa yang dibakar, bunga-bungaan, cabai, bawang-bawangnya, hingga telor yang tertinggal di sudut-sudut stadion.

“Kalau di Stadion Madya kami menyerahkan seluruhnya kepada pengurus stadion, dalam artian kami terima beres dalam hal sewa dan lainnya. Di Stadion Madya setahu saya memang ada untuk pawang hujan,“ ujar Galih Purnanda Sakti, General Coordinator yang menangani laga di Stadion Madya (Jakarta), Stadion Moch. Soebroto (Magelang), dan Stadion (Solo) kepada Kompas.com.

Bawang merah dan cabe yang ditusukkan disapu salah satu sesaji yang disiapkan pawang hujan guna untuk mengurangi peluang turunnya hujan saat berlangsungnya pertandingan.

Bawang merah dan cabe yang ditusukkan disapu lidi salah satu sesaji yang disiapkan pawang hujan guna untuk mengurangi peluang turunnya hujan saat berlangsungnya pertandingan. (KOMPAS.com/Suci Rahayu)

Menurut Galih, pihak pengurus stadion tidak menyewa pawang hujan sembarang. Mereka selektif dan memastikan kesaktian sang pawang hujan.

Bahkan, dia menyebut selalu ada anggaran khusus dari Panitia Pelaksana (Panpel) lokal untuk pawang hujan.

“Jujur di Stadion Madya itu curah hujannya tinggi dan kalau tidak ada pawang hujan lapangan bakalan rusak dengan volume pertandingan yang kita jalani. Itu yang saya dengar dari pengurus stadion,” imbuhnya.

Sebagai generasi melek teknologi yang hidup berdampingan dengan adat istiadat, Galih Purnanda Sakti merasa praktik semacam ini bagian dari teknologi warisan leluhur.

Dia menganggap pengadaan pawang hujan sebagai bentuk usaha lebih untuk mewujudkan hasil penyelenggaraan kompetisi terbaik.

“Kalau saya bilang ini penting karena untuk menjaga kualitas rumput sendiri. Selain itu, semua pihak di stadion pasti juga tidak ingin turun hujan saat hari pertandingan,“ ucap Galih Purnanda Sakti.

Sesaji pawang hujan yang diletakan di bawah tribun guna untuk mengurangi peluang turunnya hujan saat berlangsungnya pertandingan.

Sesaji pawang hujan yang diletakan di bawah tribun guna untuk mengurangi peluang turunnya hujan saat berlangsungnya pertandingan. (KOMPAS.com/Suci Rahayu)

Keberadaan “teknologi” metafisika seperti pawang hujan bukan menggantikan teknologi modern yang ada.

Namun, mereka menambah dan mengisi kekurangan yang tidak bisa dijangkau oleh teknologi modern.

Melakukan langkah antisipasi dengan pengetahun terkini seperti meningkatkan kualitas lapangan dan menciptakan drainase yang baik wajib dilakukan.

Menggunakan jasa pawang hujan bisa menjadi langkah tambahan untuk meningkatkan rasa nyaman.

Kembali lagi, boleh percaya atau tidak, ini adalah budaya kita, bagian dari ‘teknologi’ warisan leluhur yang harus kita hargai dan lestarikan agar BRI /2022 tetap berjalan.

Berita Terkait