Injak Wajah Cuma Dapat Kartu Kuning, Wasit Liga 3 Jadi Sorotan

Kejadian horor sekaligus memalukan terjadi dalam partai Liga 3 2021/2022 wilayah Jawa Tengah yang mempertemukan PPSM Sakti Magelang dan Persak Kebumen pada Senin (01/11/2021) lalu. Wasit pemimpin pertandingan jadi sorotan publik setelah dianggap tidak becus dalam melaksanakan tugasnya.

Pasalnya wasit hanya memberikan kartu kuning pada Tri Hartanto (Persak) usai sang pemain melakukan injakan ke bagian bawah muka hingga leher Santino Berti (PPSM) saat berebut bola. Padahal aksi berbahaya tersebut amat pantas bila diganjar kartu merah langsung.

Kontan saja keributan terjadi. Tidak cuma mengerubungi wasit, namun segenap elemen PPSM juga mengincar Tri. Dalam video pendek yang ramai beredar di media sosial ia tampak tidak menunjukkan gestur menyesal.

Santino tampak mengerang kesakitan di atas lapangan setelah insiden tersebut. Sebagai bentuk penanggulangan, mobil ambulans bahkan sampai harus dikerahkan untuk membawa sang pemain ke rumah sakit.

Pertandingan sempat dihentikan sejenak karena skuat PPSM yang saat itu sudah tertinggal 0-2 di sepuluh menit pamungkas waktu normal menolak bermain lagi. Akan tetapi, mereka kemudian melunak dan bersedia melanjutkan permainan.

Insiden di luar akal sehat ini kemudian mendapat perhatian dari Wali Kora Magelag yakni Muchamad Nur Aziz. Brsama Kapolres Magelang Kota dan Ketua PSSI Askot Magelang, ia menyempatkan waktu untuk menengok Santino di RSUD Tidar Kota Magelang.

“Ya kita ikut prihatin terjadi insiden seperti itu. Ya mudah-mudahan si Berti, pemain kita dari PPSM segera sembuh dan semuanya harus sabar. Wong permainan mesti ada seperti itu. Sing penting kita harus sportif,” ujar Aziz seperti yang dikutip dari Detik usai membesuk di Santino Selasa (02/11/21).

Kejadian ini tentunya kembali mencoreng citra korps baju hitam di ranah sepak bola tanah air. Pasalnya hingga detik ini kesalahan dalam pengambilan keputusan masih terlalu sering terjadi baik di Liga 1, Liga 2, maupun Liga 3.

Peningkatan kualitas wasit adalah kunci agar sebuah kompetisi tetap berjalan sehat. Digalakkannya satuan tugas anti mafia sepak bola tidak akan mendatangkan manfaat apabila ketidakadilan masih kerap terjadi di dalam lapangan. Tidak heran belakangan ini para fans ingin agar tekhnologi pembantu segera diperkenalkan.