Pelatih Interim Persik Tetap Pede Meski Hanya Berlisensi B AFC

Alfiat, pelatih karetaker Persik Kediri, tetap percaya diri mengarungi kerasnya persaingan BRI Liga 1 2021/2022 meski hanya mengantongi lisensi B AFC.

Alfiat menggantikan Joko Susilo yang dilepas manajemen Persik Kediri usai laga pekan keenam BRI Liga 1. Tugas berat menantinya, dimulai pada duel kontra PSIS Semarang, Jumat (15/10/2021) sore WIB.

Jelang debutnya sebagai pelatih interim Persik, Alfiat mengaku tak tegang. Ia menyerahkan semuanya kepada Tuhan sembari mempersiapkan tim dengan sungguh-sungguh.

“Perasaan saya biasa saja. Saya anggap ini garis takdir yang telah ditetapkan Allah SWT. Saya akan menjalaninya dengan ridho dan sungguh-sungguh,” kata Alfiat.

Sosok yang sukses memberi gelar juara kepada Persik pada Liga 3 2018 dan Liga 2 2019 ini tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk belajar.

“Sebagai pelatih baru di BRI Liga 1 2021/2022, saya akan belajar dari pelatih-pelatih top yang dimiliki klub lainnya. Saya juga tak merasa nervous menghadapi PSIS,” ucapnya.

Alfiat mengaku hanya fokus pada tim Persik. Karena dia harus memperbaiki banyak hal, seperti taktik permainan hingga mental bertanding.

Ia berjanji akan mengembalikan gaya permainan khas Persik yang pernah digjaya di Liga 3 dan Liga 2 lalu. Permainan menyerang siap disajikannya.

“Saya perbaiki dan mantapkan tim dulu. Bila semua sudah tertata, saya yakin Persik bisa bersaing lagi di kompetisi ini,” tuturnya.

“Saya akan kembalikan gaya main dulu. Persik harus punya karakter. Dan, saya suka permainan menyerang,” ujarnya.

Langkah awal guna mewujudkan rencana itu, Alfiat bakal memberi peran lebih banyak kepada para pemain yang sukses di dua kasta sebelumnya.

Di skuat Persik ada beberapa wajah lama yang sukses mengangkat klub ini ke BRI Liga 1. Ada Ibrahim Sanjaya, Risna Prahalabenta, Faris Aditama, Bayu Otto, Adi Eko Jayanto, Eka Sama Adi, Jordan Zamorano, Yusuf Meilana, dan striker Septian Satria Bagaskara.

“Untuk mengembalikan karakter Persik, ya harus menurunkan pemain lama. Karena mereka sudah paham cara mainnya. Tapi tak semua dipasang. Saya lihat kebutuhan tim,” jelasnya.