BRI Liga 1: Kompetisi Vakum Lama, Mayoritas Tim Terpaksa Berlatih dalam Pertandingan

Seluruh pertandingan pada pekan pertama BRI sudah rampung digelar. Ada sebuah analisa menarik yang dilontarkan instruktur pelatih dan pengamat sepak , Hanafing, terkait penampilan 18 kontestan pada laga pekan pertama.

Hanafing menilai sebagian besar tim terpaksa melakukan latihan sembari bertanding atau istilahnya training in the game, untuk menyiasati berbagai kekurangan dalam skuadnya, terutama dalam persiapan menghadapi BRI Liga 1.

“Persiapan mayoritas tim Liga 1 tidak ideal, terutama fisik dan kerja sama tim. Saya mengamati para pelatih berusaha menyiasatinya dalam pertandingan. Pelatih menutup kekurangan timnya dalam permainan, sehingga tidak heran bagi fisik kedodoran dan kerja sama tim belum kompak,” ujar Hanafing.

Mantan bintang itu menilai latihan dalam pertandingan itu wajar terjadi saat ini. Walau sebenarnya ini tidak lazim dilakukan oleh sebuah klub sepak bola profesional.

“Kalau di Eropa, latihan itu sebelum kompetisi. Jika kompetisi dimulai, mereka sudah benar-benar siap. Liga 1 musim ini, saya melihat semua tim tidak bisa melakukan persiapan bagus pada masa pandemi COVID-19,” ujarnya.

“Pelatih pasti bingung mengatur fisik para pemain, karena jadwal BRI Liga 1 yang tidak pasti. Mau uji coba juga sulit, karena terbentur oleh protokol kesehatan yang ketat selama pandemi COVID-19,” lanjutnya.

Hanafing juga mengakui vakumnya kompetisi selama hampir dua tahun terakhir sangat memengaruhi performa individu pemain maupun secara tim ketika tampil di BRI /2022.

“Saya memperhatikan stamina pemain belum merata. Ada yang sudah siap, ada yang masih di bawah standar. Saya memprediksi semua peserta baru menemukan permainan terbaiknya dalam putaran kedua, catatannya jika Liga 1 lancar ya,” jelasnya.

Namun, pelatih berlisensi Pro ini melihat ada beberapa pelatih Liga 1 yang jeli memanfaatkan momen pertandingan pekan pertama lalu.

“Ada pelatih yang menerapkan taktik tempur pada menit awal untuk mencetak gol lebih dulu. Ada juga yang main sabar untuk menjaga stamina pemain. Jika ada peluang, tim itu melakukan serangan balik. Jadi saya melihat tak ada satu tim yang bermain stabil sepanjang babak,” ujarnya.

Berita Terkait