Alasan Liga 1 2021 Wajib Vaksin 2 Dosis dan Tidak Pandang Lokal Maupun Asing

PT Baru () mempertegas kembali Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 35 Tahun 2021 demi terselenggaranya 2021-2022 yang steril dan aman.

Seluruh pemain, ofisial, kru media dan staf pendukung yang hadir dalam kompetisi wajib mendapat vaksinasi dosis kedua. Tidak terkecuali, pemain dan juga staff asing.

Direktur Utama PT , menegaskan hal tersebut sudah menjadi keputusan yang tidak bisa ditawar.

Apabila ada kendala dalam penerapannya, hal tersebut akan dicarikan solusi bersama.

“Jadi, ini mutlak dua kali tidak bisa ditawarkan dan dinegosiasi. Intinya ada beberapa komunikasi dengan Kemenkes apakah bisa ada program percepatan. Tentunya harus ada aturan,” tegas Akhmad Hadian Lukita dalam sesi konferensi pers virtual, Selasa (21/8/2021) malam.

“Vaksin harus 2 kali tidak ada pengecualian karena saat cek vaksin tidak masuk ke sistem juga tidak bisa masuk ke area yang ditentukan,” imbuhnya.

Sejauh ini memang ditemukan banyak kendala dalam proses vaksinasi pemain asing.

Kendala pertama karena beberapa negara punya kriteria khusus vaksin yang harus diberikan kepada warganya.

Kendala kedua adalah sulitnya proses integrasi data pemain asing ke aplikasi Peduli Lindungi yang menjadi acuan validasi data penerimaan vaksinasi.

Dalam kasus ini, PT LIB menerima laporan ada pemain asing yang sudah vaksin 2 kali tetapi datanya tidak bisa masuk ke sistem.

Hal tersebut terjadi karena proses input data pemain lebih rumit akibat para personal mancanegara tersebut tidak memakai KTP dan NIK seperti pemain lokal.

Demi mengatasi masalah tersebut PT LIB sudah berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mengajukan solusi input manual.

“Banyak pemain asing yang sudah vaksin 2 kali tidak masuk aplikasi Peduli Lindungi karena beda. Mereka harus menggunakan paspor, kita menggunakan NIK dan mereka tidak punya NIK,” terang Direktur Operasional PT LIB, Sudjarno.

“Namun, berdasarkan komunikasi, LIB, dan Menkes akan validasi secara manual. Bukti vaksin dan dokumennya dll itu menjadi pertimbangan sehingga diputuskan bisa main kalau sudah 2 kali vaksin,” imbuhnya.

Meski demikian, Sudjarno juga mempertegas kembali tidak ada kompromi mengenai regulasi vaksinasi dua tahap.

Para pemain yang baru mendapatkan dosis pertama terpaksa harus menunggu sampai mendapatkan dosis kedua.

“Kalau satu kali (vaksin) belum bisa, itu sudah menjadi instruksi Mendagri (Menteri Dalam Negeri) yang tidak bisa ditawar.”

“Jadi yang vaksin satu kali sementara kembali lagi, kecuali nanti ada akselerasi pemerintah daerahnya bisa vaksin, ya nanti bisa main dan akan divalidasi paspornya sebagai bukti vaksin. Namun, kalau masih satu kali tidak bisa,” tegasnya.

Kabar baiknya, klub dan pemain memiliki kesadaranan yang baik dalam memahami regulasi ini. Sehingga, saat ini tingkat vaksinasi pemain peserta Liga 1 sudah hampir mencapai 100 persen.

“Kalau yang belum vaksinasi kedua dalam presentasi sedikit sekali. Saya bisa menyebut 1-2 persen. Sedikit, sedikit sekali yang belum,” ujar Akhmad Hadian Lukita.

“Mudah-mudahan ada bantuan karena kami komunikasi dengan Kemenkes agar ada percepatan atau segera bisa dapat fasilitas vaksin,” ujarnya lagi.

Sudjarno menambahkan hingga saat ini federasi masih mengikat kerjasama dengan Kadin (Kamar Dagang dan Industri) untuk menuntaskan vaksinasi 2 tahap di Liga 1.

Sementara, temuan 1-2 persen yang sudah dijabarkan oleh Akhmad Hadian Lukita merupakan faktor eksternal.

“Kenapa masih ada 1-2 persen yang belum vaksin? Karena misal punya surat keterangan dokter dia tidak boleh vaksin. Pemain yang bersangkutan tidak boleh vaksin tapi aturan kita harus vaksin 2 kali. Nah, nanti aturan-aturan itu akan dikomunikasikan,” kata Sudjarno.

Berita Terkait