Pelatih Persela Bicara Potensi Pemain Usia Muda Indonesia

Pelatih Persela Lamongan, Iwan Setiawan, blak-blakan mengenai perkembangan sepak bola nasional, khususnya pandangannya terhadap potensi pemain muda di Indonesia.

Iwan Setiawan merupakan satu di antara beberapa pelatih Indonesia yang cukup makan asam dan garam kehidupan sepak bola Indonesia. Ia juru taktik berpengalaman yang pernah melatih Borneo FC, Persija Jakarta, Persebaya Surabaya, dan kini bersama Persela Lamongan.

Baru-baru ini, ia menjadi tamu dalam kanal YouTube Wolfgang Pikal untuk berbagi ilmunya. Terutama topik mengenai regenerasi yang bisa ditentukan oleh kualitas seorang pelatih.

Diawali dengan tingkat sekolah sepak bola (SSB), Iwan Setiawan menjawab pertanyaan Wolfgang Pikal, yaitu hal penting bagi seorang pelatih SSB. Iwan pun memiliki pandangan bagaimana kemampuan seorang pelatih SSB menghasilkan bibit pemain yang berkualitas.

“Sebenarnya harus memiliki keahlian khusus di samping keahlian sebagai pelatih, karena saat bekerja dengan pemain usia muda dituntut menjadi seorang guru, orang tua, ayah, kakak. Tidak cukup belajar tentang ilmu sepak bola usia dini, tapi juga belajar psikologi anak,” ujar Iwan Setiawan.

“Kemudian mencari bibit pesepak bola usia dini, fokusnya tiga poin penting, meliputi bagaimana bertahan, transisi, dan menyerang. Tidak boleh lari dari tiga hal tersebut. Melihat mereka baik secara individu, grup, maupun tim. Bicara soal talenta itu penting dan mendasar, tapi tak kalah penting adalah mental, sikap, dan perilaku. Itu prioritas saya selama menjadi pelatih,” lanjut pelatih Persela Lamongan itu.

Pelatih Usia Dini yang Sukses
Lantas pertanyaan Wolfgang Pikal berikutnya adalah definisi dari pelatih usia dini yang bisa dikatakan sukses versi seorang Iwan Setiawan. Pelatih Persela Lamongan itu pun menjawab bahwa ukuran kesuksesan pesepak bola dari usia muda bukan hanya prestasi secara permainan di atas lapangan.

“Menurut saya, adalah saat anak-anak muda tumbuh besar, dewasa, dan menjadi manusia yang baik. Orientasi bukan hanya kemenangan, tapi individu tumbuh sukses dan segalanya baru bisa dikatakan pelatih sukses,” ujar pelatih yang pernah menukangi Persijatim Solo itu.

Sementara di sisi lain, Iwan Setiawan sangat mengadopsi mentalitas sepak bola yang dibuat oleh Jerman. Hal yang dapat digunakan dalam kemampuannya melatih anak asuhnya.

“Buat saya, Jerman identik dengan integritas. Sama halnya bekerja di sepak bola, itu dasar dari olahraga itu sendiri. Setelah ada integritas dan faktor lain mengikuti termasuk loyalitas,” tuturnya.

“Jangan pernah merasa sudah menang atas Jerman sebelum peluit panjang berbunyi. Mereka akan mengejar terus ke titik darah penghabisan. Itulah yang membuat saya suka sepak bola Jerman,” jelas Iwan Setiawan.