Pendapatan Menurun, Persebaya Tebar Janji Tak Bakal Tunggak Gaji Pemain

Persebaya Surabaya berkomitmen bisa memenuhi hak-hak personel tim saat berlangsungnya BRI Liga 1 2021/20222.

Klub berjulukan Bajul Ijo berusaha menyesuaikan pengeluaran dan pemasukan agar memiliki keuangan yang sehat. Dengan begitu, pemenuhan gaji bisa dilakukan dan tidak tersendat.

Seperti diketahui, kompetisi kasta tertinggi Indonesia bakal dimulai 27 Agustus 2021. Pendapatan klub-klub kontestan berpotensi menurun digelarnya BRI Liga 1 2021/2022. Sebab, kompetisi dihelat saat pandemi COVID-19 masih berlangsung dengan pertandingan digelar tanpa penonton.

“Kami di Persebaya Surabaya, insyaAllah, ada komitmen dari manajemen untuk pelatih, pemain, dan ofisial. Di awal musim kontrak kami sebutkan seperti apa terbuka,” kata Candra Wahyudi, manajer Persebaya, dalam wawancara bersama Kabar Petang di TvOne, Jumat (13/8/2021) sore.

“Kami jelaskan kemampuan klub, situasi liga, sampai hak komersial. Kami diskusikan ini dengan pelatih, pemain, dan ofisial. Saat tanda tangan kontrak, teman-teman paham situasinya. InsyaAllah, Persebaya bisa,” imbuhnya.

Candra tidak memungkiri situasi saat ini sulit buat klub untuk bisa membayarkan gaji dengan nilai yang semestinya. Makanya, Persebaya Surabaya mengambil kebijakan dengan berterus terang kepada pelatih maupun pemain mengenai kondisi finansial klub.

“Kami melakukan penyesuaian agar klub bisa menjalankan kompetisi sampai akhir, bagaimana klub bisa memenuhi tanggung jawab pemain. Ini beban klub ketika kompetisi digelar di tengah pandemi,” ucap Candra.

“Penyesuaian ini soal nilai. Kompetisi normal saat awal 2020 berbeda dengan situasi normal. Kami melakukan negosiasi dengan pelatih maupun pemain. Ketika situasi pandemi pertandingan tanpa penonton, ini tentu mengurangi revenue,” tutur pria berusia 44 tahun itu.

Kondisi pandemi pasti berpengaruh kepada penurunan gaji pemain dan pelatih dibanding situasi normal. Kesepakatan yang terjalin sejak awal dengan memerhatikan pandemi COVID-19 diharapkan membuat klub juga tak terimbas negatif lagi.

“Pendapatan dari sponsor sampai hak komersial menurun. Kami menyampaikan apa adanya. Misal gaji sebulan mereka Rp30 juta, mungkin ada penurunan jadi Rp20 juta. Kami ceritakan sejujurnya masalahnya,” ungkap Candra.

“Pendapatan mereka berkurang karena pendapatan klub juga berkurang. Kami merasa ini adalah win-win solution dengan kondisi seperti sekarang ini,” ujar pria asli Bojonegoro tersebut.

Permasalahan gaji pemain Liga 1 cukup menjadi sorotan mengingat pandemi COVID-19 memengaruhi finansial klub. Dalam situasi normal saja, kabar penunggakan gaji pemain masih kerap menghiasi pemberitaan sepak bola nasional.