Frans Sinatra Masih Terkenang Kebijakan dan Kekeluargaan dari Pendiri Barito Putera

Pelatih Cilacap sekaligus mantan pemain Putera, , menuturkan bahwa kekeluargaan di dalam tim sepak bola terasa mulai terkikis sejak era sepak bola profesional dimulai pada 1994 dengan menggabungkan kompetisi yang diikuti klub perserikatan dan Galatama.

Padahal menurut pelatih PSCS itu, kekeluargaan adalah jiwa yang telah melekat bagi masyarakat Indonesia.

“Saya pikir era sepak bola profesional mulai mengikis kekeluargaan dalam tim. Sekarang sepak bola diukur dengan materi. Pemain minta kontrak berapa dan apa yang bisa diberikan oleh klub,” ujar Frans Sinatra.

Akibatnya hubungan antara pemain dengan pemilik klub nyaris hanya bisnis semata. Kedekatan di antara kedua belah pihak pun bukan lagi seperti keluarga, seperti yang pernah dirasakannya kala masih aktif bermain di Barito Putera pada era 1989 hingga 2000 itu.

“Kalau dari sisi materi, gaji kami dulu jauh dibandingkan pemain zaman sekarang. Tapi, kami merasa nyaman dan betah bermain di satu klub karena pemiliknya menganggap kami sebagai keluarga. Bahkan seperti anak sendiri,” ujar mantan pemain Barito Putera itu.

Bicara nilai gaji bulanan memang kecil, tapi pemilik klub Barito Putera, almarhum HA Sulaiman HB, selalu membantu jika ada pemain yang butuh dana untuk keperluan rumah tangga.

“Sikap kebapakan almarhum Bapak Sulaiman HB terus melekat dalam ingatan saya. Siapa pun yang butuh bantuan untuk keperluan pribadi dipenuhi, tanpa memotong gaji. Beliau juga menasihati agar pemain berhemat dan menabung untuk masa depan,” tuturnya.

Bahkan untuk urusan sepele, seperti biaya sekolah anak, pun dipikirkan oleh ayah kandung CEO Barito Putera saat ini, Hansuryadi Sulaiman, itu.

“Beliau juga selalu tanya kabar keluarga pemain. Ini yang membuat kami tidak segan curhat urusan pribadi kepada beliau. Misal jika kita butuh untuk biaya sekolah anak, beliau selalu membantu,” ungkapnya.

Selama 16 tahun berkarier sebagai pesepak bola, hanya ada dua klub yang dibela oleh Frans Sinatra, yaitu Jaya dan Barito Putera. Bahkan sosok yang karib disapa Si Kai ini sempat menjadi pelatih Laskar Antasari setelah memutuskan gantung sepatu.

“Kekeluargaan itu yang membuat Barito Putera menjadi satu di antara sedikit eks klub Galatama yang tetap eksis di sepak . Misi mulia itu pun diteruskan oleh Pak hingga kini,” pungkasnya.

Berita Terkait