Cerita Dragan Djukanovic, Dari Awal Karier Sebagai Pelatih dan Tantangan Bersama PSIS di Liga 1

Dragan Djukanovic termasuk pelatih asing yang masih eksis di kompetisi Tanah Air. Pria berpaspor Montenegro ini pertama kali datang ke Indonesia setelah menerima tawaran manajemen Borneo FC yang berkiprah pada ajang Torabika Soccer Championship (TSC) 2016.

Kini, Dragan jadi pelatih PSIS Semarang menghadapi persaingan Liga 1 2021/2022. Dalam channel youtube PSIS TV, Dragan mengungkap cerita pengalaman panjangnya sebagai pelatih yang dimulai dengan menangani klub Montenegro, Mogren Budva pada musim 2005/2006. Dragan mengaku, ia sejatinya tak pernah berpikir menjadi pelatih setelah memutuskan gantung sepatu pada 2004.

“Saya malah ingin menjadi agen pemain atau Direktur Olahraga pada sebuah klub,” ujar Dragan.

Tapi, petinggi Mogren Budva terus merayunya. Dragan diyakini bisa menyelamatkan Mogren Budva yang saat itu tengah terpuruk di kompetisi dengan bertengger di peringkat 15 dari 16 tim peserta. Alasannya, sebagai mantan kapten Mogren Budva, Dragan paham dengan situasi, kondisi dan karakter tim.

Ia pun diberi wewenang penuh di tim kalau menerima tawaran itu.Dragan pun akhirnya menerima tawaran manajemen Mogren Budva setelah mempertimbangkan dampak dari pilihannya itu.

“Kalau saya mampu menyelamatkan tim, maka saya akan meneruskan karier sebagai pelatih. Begitu pun sebaliknya kalau gagal, saya akan lupakan profesi ini,” tutur Dragan.

Berkat kerja keras Dragan dan tim, Mogren Budva tak hanya selamat dari ancaman dengradasi. Mereka mengakhiri kiprah musim itu dengan bertengger di peringkat enam. Dari 14 partai bersama Dragan, Mogren Budva mencetak delapan kemenangan, empat imbang dan hanya dua kali menelan kekalahan.

Tak pelak, hasil ini mencuatkan nama Dragan sebagai pelatih. Apalagi pada musim berikutnya, posisi tim yang ditanganinya itu naik satu tingkat di klasemen akhir.Dari Mogren, Dragan kemudian berturut-turut menangani OFK Beograd, FK Sindjelic, OFK Beograd, Sinđelic Beograd (Serbia), Sheikh Russel (Bangladesh) dan FK Lovcen (Montenegro) sebelum terbang ke Indonesia pada 2016.

“Saya mendapat banyak masukan dari (eks ) tentang sepak bola Indonesia dan kompetisinya. Saya pun menerima tawaran manajemen Pusamania Borneo FC,” kata Dragan Djukanovic.

Sejatinya, kiprah Dragan diawal kariernya di Indonesia bersama Borneo FC terbilang datar. Ia hanya mampu membawa tim asal Samarinda itu bertengger di papan tengah TSC 2016 dan Liga 1 2017.

Dragan pun akhirnya kembali ke negaranya untuk menanangani Sindelic Beograd, klub kasta kedua Liga Serbia pada 2019 dengan opsi sewaktu-waktu meninggalkan tim asuhannya bila ada tawaran dari tim lain.Dragan pun tak lama di Sendelic setelah mendapat kabar dari agennya, Antonio Teles tentang ketertarikan PSIS Semarang yang saat itu tengah terpuruk di Liga 1 2019.

“Teles memberikan gambaran bagus tentang PSIS. Saya pun menerima tawaran menjadi Direktur Teknik PSIS dengan opsi menjadi pelatih kepala pada musim berikutnya,” ungkap Dragan.

Kehadiran Dragan mampu membawa suasana baru di PSIS. Bersama pelatih PSIS saat itu, Bambang Nurdiansyah, tim berjulukan Laskar Mahesa Jenar lolos dari ancaman degradasi dengan bertengger di peringkat 14 pada klasemen akhir.

Seperti diketahui, pada musim itu, tiga tim yang mengalami degradasi adalah Perseru Badak Lampung, dan .

Dragan pun menjadi pelatih kepala PSIS pada Liga 1 2010. Pada tiga partai yang dimainkan, PSIS bertengger di peringkat lima dengan hasil dua kemenangan dan satu kali kalah.

Sayangnya, PSSI akhirnya membatalkan kompetisi karena izin dari kepolisian tak kunjung turun setelah mengalami penundaan gegara pandemi COVID-19.

“Saya menilai pihak federasi (PSSI) kurang bekerja keras untuk mencari solusi. Saat ini, Indonesia menjadi satu-satunya negara yang kompetisinya berhenti lebih dari satu tahun. Padahal, masalahnya sama yakni pandemi COVID-19,” tegas Dragan.

Terkait penampilan apik PSIS di meski mengandalkan pemain muda tanpa pemain asing, Dragan menjelaskan, sebenarnya tim asuhannya bisa melangkah jauh di ajang pra musim itu. Sayang, mental pemain mudanya belum kuat menanggung beban sehingga disingkirkan via drama adu penalti di babak 8 Besar.

“Tapi, saya memahami kondisi psikologis para pemain muda. Saya pun bilang, mereka punya potensi tapi harus bekerja keras dan disiplin untuk bersaing di Liga 1 karena atmosfer turnamen dengan kompetisi jelas berbeda,” pungkas Dragan.

Berita Terkait