COVID-19 Meroket, Nasib Liga Thailand Di Tangan Pemerintah

Federasi sepakbola Thailand (FAT) serta operator Liga Primer Thailand (TPL) 1 dan 2, Thai League Company Limited, sepakat untuk kedua kalinya menunda kick-off kompetisi hingga 3 September.

TPL 1 sebetulnya direncanakan bergulir pada bulan ini. Namun pandemi virus Corona di Thailand belum mengalami penurunan, FAT dan Thai League Co menundanya ke 13 Agustus.

Keputusan penundan kembali diambil setelah FAT, Thai League Co, dan klub TPL 1 dan 2 menggelar pertemuan secara virtual kemarin. Hal itu disebabkan makin banyak zona berbahaya COVID-19 di wilayah Thailand, sehingga diputuskan kick-off kompetisi dilakukan pada 3 September.

Pelaksana tugas (Plt) presiden Thai League Co, Korrawee Pritsananantakul, mengatakan, penundaan itu berdasarkan kebijakan yang dikeluarkan pusat administrasi situasi COVID-19 (CCSA), satu di antaranya menutup stadion demi menekan angka kasus pandemi.

“Tentu saja, ini mempengaruhi klub-klub di liga profesional Thailand di semua level, termasuk adanya pengumuman larangan berkumpul tidak lebih dari lima orang yang menjadi penghambat penyelenggaraan kompetisi atau persiapan tim,” jelas Korrawee dikutip Goal Thailand.

“Situasi di Thailand saat ini ada 13 provinsi berstatus zona merah tua, 53 provinsi dengan zona merah. Semua provinsi itu berkaitan dengan liga Thailand di semua tingkatan. Sedikitnya ada tujuh klub TPL 1, dan enam klub TPL 2 di zona merah tua. Sisanya berada di zona merah, kecuali [klub] Phrae United.”

“Kekuatan pengambilan keputusan untuk memulai kembali kompetisi tidak lagi berada di federasi, tetapi sekarang berada di tangan pemerintah untuk menentukan langkah-langkah mencegah penyebaran COVID-19.”

Korrawee menambahkan, Thai League Co serta klub TPL 1 dan 2 akan membentuk tim untuk bekerja sama dengan FAT dan departemen terkait agar kompetisi bisa digulirkan. Korrawee berharap keberhasilan Thailand menjadi tuan rumah terpusat pertandingan Grup F dan G Liga Champions Asia (LCA) 2021 di Bangkok pada akhir Juni lalu bisa melunakkan pemerintah.

“Pertandingan Liga Champions terpusat berlangsung aman tanpa ada yang terpapar [COVID-19]. Mudah-mudah ini akan meyakinkan CCSA, dan memberi kami kepercayaan diri dalam menyelenggarakan turnamen,” imbuh Korrawee.

“Tetapi jika situasinya masih lebih buruk dari sebelumnya, kami mungkin perlu berbicara lagi tentang kompetisi, entah itu secara terpusat atau menemukan jalan lain yang bisa mendapat lampu hijau dari CCSA.”