Persebaya Jengah Dengan Ketidaktegasan PT LIB soal Liga 1

Persebaya Surabaya benar-benar jengah dengan ketidakpastian kompetisi 2021/2022. Sejak dipastikan ditunda, belum ada keputusan resmi yang disampaikan PSSI ataupun () selaku operator kompetisi.

Manajer Persebaya, mengaku gelisah dengan situasi ini. Ia berharap kedua otoritas terkait tak melakukan kesalahan serupa saat mengulur-ngulur waktu seperti tahun lalu.

Pada Liga 1 2020, kompetisi ditunda pada pekan ketiga saat COVID-19 mulai pertama kali masuk ke Indonesia. Sempat akan dilanjutkan pada awal Oktober 2020, namun rencana itu tak nyatanya tak bisa terealisasi.

“Jangan sampai hal yang sama terulang tahun ini. Jika sampai akhir Agustus 2021 belum ada kepastian, kami mengusulkan segera diputuskan nasib kompetisi secara definitif,” ujarnya.

Upaya telah coba dilakukan dua instansi tersebut. Tetapi hingga medio Februari lalu, izin keamanan dari pihak Kepolisian tak kunjung mereka dapatkan. Mereka pun langsung membatalkan kompetisi musim lalu.

Hal inilah yang tak ingin lagi dirasakan pria asal Bojonegoro tersebut. Sebab, dampak dari kejadian tersebut sangat merugikan Persebaya Surabaya utamanya dari sisi keuangan di mana mereka harus tetap menunaikan kewajiban tetapi kesulitan mencari pemasukan.

“Ini (kompetisi dibatalkan) lebih baik daripada membiarkan mengambang tanpa kepastian,”ujarnya.

Jika Dilanjutkan, Berharap Jadwal Tak Molor

Walaupun masih tak jelas juntrungannya, Persebaya Surabaya tetap berharap kompetisi musim ini benar-benar bisa dilaksanakan.

Keberhasilan menyelenggarakan menjadi bukti pertandingan sepak bola bisa dilakukan dengan protokol yang ketat. Namun, klub berjulukan Green Force tersebut mempunyai satu persyaratan bila akhirnya kompetisi /22 digelar.

Mereka tak ingin akhir kompetisi melebihi Maret 2022.Bukan tanpa alasan mereka menuntut hal tersebut. Sebab, hal itu berkaitan dengan durasi kontrak pemain hingga perjanjian kerja sama dengan pihak sponsor. Jika sampai molor, tentu akan memberi beban tambahan bagi klub.

“Menurut kami, masih sangat memungkinkan untuk menggelar kompetisi pada periode Agustus 2021 sampai Maret 2022. Salah satu opsinya bisa dengan memangkas masa jeda antar series saat kompetisi berjalan dengan sistem semi bubble to bubble,” ujar Candra.

“Jadwal bisa dimampatkan. Dari satu pertandingan setiap minggunya, menjadi tiga pertandingan dalam dua minggu juga bisa dilakukan dan masih sangat memungkinkan. Hal ini mengacu pada Piala Menpora 2021,” tandasnya.

Berita Terkait