Jelang PON: Tim Sepakbola Papua Sengsara, Yanto Basna Meradang

Tim sepakbola Papua untuk dalam kondisi merana karena tak dapat perhatian, padahal diberi target emas harga mati. yang melihat fakta di lapangan sangat meradang.

dijadwalkan bergulir pada 2-15 Oktober 2021. Sepakbola menjadi salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan.

Tim sepakbola Papua selaku tuan rumah dituntut mendapatkan medali emas. Hal itu sempat terucap dari Ketua Asosiasi Provinsi Persatuan Sepakbola Seluruh (PSSI), , yang juga menjabat sebagai Walikota Jayapura.

Bek sekelas Indonesia, Yanto Basna, sampai tak tega melihat kondisi adik-adiknya. Dia melihat fakta secara langsung dengan mata kepala sendiri di saat pulang kampung usai klub Thailand, PT Prachuap, sedang meliburkan tim.

Yanto kemudian menyampaikan unek-uneknya lewat unggahan video di akun Instagram pribadi. Dia sudah mengizinkan detikSport untuk mengutip ucapannya di video dan berharap apa yang dia sampaikan bisa membantu semua atlet PON secara keseluruhan, bukan cuma sepakbola.

“Katanya emas harga mati! Tapi, sampai detik ini menghitung beberapa bulan lagi (ajang PON), mereka persiapan sudah beberapa tahun, sampai sekarang belum TC (pemusatan latihan) keluar. Informasi terakhir masih belum jelas juga. Ini sangat kasihan dan memperihatinkan buat adik-adik,” kata Yanto Basna.

“Kemarin saya di sana (Papua) sampai dua bulan ikut latihan bersama mereka untuk menjaga kondisi dan stamina saya. Fakta yang saya lihat di lapangan adalah persiapan dan semangat juang mereka sangat luar biasa, tapi tidak dibarengi perhatian dari pihak-pihak yang seharusnya bertanggung jawab.”

“Mulai dari air minum, fasilitas latihan, peralatan pribadi, sampai sepatu bola. Ketika saya di sana, sepatu robek harus dijahit. Bayangkan itu dijahit! Atlet sepakbola PON tuan rumah. Ini luar biasa!”

“Saya yakin berita-berita di luar Papua sana kalau atlet PON, apa lagi tuan rumah, dipikir damai sejahtera. Realita yang ada di lapangan sangat-sangat parah.”

“Bayangkan saja ini baru cabang olahraga sepakbola, belum atlet dari cabor lain. Bayangkan…bayangkan. Banyak juga yang kirim pesan ke saya kalau apa yang sudah di-upload mewakili mereka semua. Saya juga atlet, makanya saya bisa merasakan itu semua.”

“Kami tidak bisa cuma mengandalkan bakat alam tanpa disertai persiapan yang baik, kesejahteraan atlet; mulai dari tempat tinggal, mereka makan apa, protein dan gizi harus masuk, ya juga peralatan. Itu harus dilengkapi semua kalau mau bicara bahwa emas harga mati.”

“Sejauh ini kalian sudah tidak perhatikan dengan baik. Di media kasih target emas harga mati, itu sangat lucu. Sekelas orang gila juga bakal tertawa mendengar kalimat itu,” mantan bek Bandung itu menyayangkan.

Berita Terkait