Alie Sesay Teruskan Jejak Musa Kallon, Pemain Sierra Leone di Persebaya

Bek Alie Sesay memiliki satu catatan unik bersama Persebaya Surabaya. Pemain berusia 27 tahun itu menjadi pemain berpaspor Sierra Leone kedua yang pernah membela klub berjulukan Bajul Ijo.

Alie Sesay sebenarnya lahir dan besar di London. Dia juga memiliki kewarganegaraan Inggris. Tapi, dia kemudian memutuskan membela Timnas Sierra Leone mengikuti jalur dari leluhurnya yang berasal dari negara Afrika Barat itu.

Sebelumnya, Persebaya sudah pernah memiliki sosok Musa Kallon yang berasal dari negara yang sama. Musa Kallon berseragam Bajul Ijo pada Liga Indonesia 1998-1999. Alie Sesay rupanya sudah tahun itu.

“Ya saya tahu Musa Kallon. Dia ikon besar di Sierra Leone bersama kakaknya, Mohamed Kallon. Mereka sangat terkenal. Saya berharap bisa memberikan dampak sebesar dia di tim ini,” kata Alie Sesay.

Musa Kallon menjalani momen yang cukup apik pada musim tersebut. Dia cukup diandalkan mengisi lini tengah. Dia tampil dalam 10 pertandingan dan mampu menyumbang delapan gol untuk Persebaya Surabaya.

Jejak Musa Kallon

Gelandang kelahiran 8 April 1970 itu juga menjadi bagian integral Persebaya Surabaya saat menembus final Liga Indonesia 1998-1999. Sayang, Bajul Ijo gagal meraih trofi karena kalah tipis 0-1 dari PSIS Semarang di partai puncak.

Selama kariernya, Musa Kallon lebih banyak berkarier di Afrika, baik Sierra Leone maupun negara tetangga macam Kamerun. Dia sempat pula hijrah ke Eropa dengan membela klub Turki dan Rumania.

Setelah itu, Musa Kallon mencoba peruntungan ke Indonesia dengan berseragam PSM Makassar pada musim 1996-1997. Kariernya berlanjut bersama Persikota Tangerang sebelum akhirnya bergabung Persebaya Surabaya.

Setelah musim 1998-1999, dia memutuskan gantung sepatu dan mulai mencoba karier sebagai pelatih. Hal itu tentu berbeda dengan Alie Sesay yang hanya pernah berkarier di Eropa sebelum menjadi pemain Persebaya.

Karier Alie Sesay

Alie Sesay mengawali kariernya dengan menjadi pemain akademi Arsenal dan Leicester City. Setelah itu, dengan status pemain milik Leicester City, dia dipinjamkan ke klub kasta bawah Inggris, yakni Colchester United dan Cambridge.

Dia lantas memberanikan berpetualang ke beberapa negara Eropa demi mendapat kesempatan bermain. Beberapa klub yang pernah dibelanya adalah IK Frej (Swedia), Chania Kissamikos (Yunani), Arda Kardzhali (Bulgaria), Zira FK, dan Sabail (Azerbaijan).

Persebaya dan kompetisi Indonesia menjadi tantangan baru buat Alie Sesay dalam berkarier.

“Pastinya, ke mana pun saya pergi, saya selalu ingin menang. Bagi saya senang bisa menggambarkan diri saya sebagai pemenang. Satu-satunya yang ingin saya lakukan adalah menang. Jadi, tujuan saya adalah menang dan membantu tim,” ungkapnya. (bola.com)