Timnas Indonesia Sudah Ada Perbaikan, tapi…

dinilai sudah membaik di sisa laga Kualifikasi . Namun begitu stamina Evan Dimas dkk disebut masih buruk.

Timnas Indonesia mengalami dua kekalahan telak dari tiga laga sisa yang mereka jalani di Dubai, Uni Emirat Arab. Mereka tumbang 0-4 dari Vietnam dan dikalahkan tuan rumah 0-5.

Eks Timnas Indonesia, Supriyono Prima, realistis melihat junior-juniornya habis babak belur oleh dua tim tersebut. Ia maklum karena kondisi pandemi dan persiapan tanpa kompetisi.

“Saya realistis saja, dengan kondisi pandemi COVID-19, persiapan tanpa adanya kompetisi, lalu perombakan pemain yang besar-besaran. Memang sih untuk pecinta sepakbola melihatnya agak sakit, tapi bagi kami pelatih, segala macam, saya pikir akan indah pada waktunya. Yang penting sabar dan memanage yang diperlukan,” kata Supriyono kepada detikSport, Sabtu (12/6/2021).

Bukan tanpa alasan, eks pemain Timnas era Primavera yang kerap menjadi komentator sepakbola ini, mengatakan demikian. Timnas meskipun kalah dengan margin besar tapi dari sisi pemahaman taktikal, motivasi, fighting spirit, sudah ada perbaikan.

“Ya, pasti dengan hasil di kualifikasi pasti ada evaluasi dan evaluasi itu banyak potensi-potensi yang harusnya bisa bergabung atau dimasukkan. Seperti , perfomanya lagi oke, lalu yang kita ketahui, walau speednya menurun tapi posisi enam itu punya Zul. Tapi yang penting dari itu, kondisi sekarang Shin sedang membentuk dan membuat pondasi, tidak hanya mental pemain, tapi bagaimana memahami filosofi taktikal yang diinginkan Shin.”

“Artinya, menentukan stamina itu sangat penting. Banyak sekali pemain kita yang dikhawatirkan bisa melakukan pertandingan selama 90 menit karena mereka belum bisa konsisten, dan itu pekerjaan rumah sih.”

“Intinya, kalau bicara teknik, skill, kecepatan, tidak ada masalah. Tapi berbicara stamina ini yang masih perlu tingkatkan selama persiapan di luar negeri,” dia menegaskan.

Supriyono berharap pelajaran selama mengikuti bisa menjadi pengalaman Timnas Indonesia di situasi saat ini.

“Ini jadi pengalaman buat kita, apalagi situasi-situasi yang sudah terbentuk, ini menjadi pelajaran, bahwa membentuk Timnas itu perlu sabar, perlu investasi, perlu sistem, perlu metode yang baik,” katanya.

Ia optimistis dengan perbaikan, maka Timnas Indonesia bisa berbicara banyak di SEA Games, Hanoi, November 2021.

“Segala sesuatu di sepakbola bisa terjadi. Tinggal bagaimana para pemain, para pelatih bekerja keras untuk bisa mendapatkan level dan peak di SEA Games seperti 1991. Intinya kan, sama-sama gotong royong kerja keras. Baik itu federasi, pemain, pemerintah. Keseluruhan karena dalam sepakbola ada teknis dan nonteknis,”

“Nah, teknisnya ya pelatih pemain. Nonteknisnya ialah federasi, pemerintah, stakeholder yang bisa mensupport segala sesuatu keperluan untuk bisa meraih hasil yang baik yaitu medali emas,” ujarnya.

“Yang penting balik lagi, perfoma kebugaran jadi poin yang harus ditingkatkan. Apalagi kondisi pandemi. Kalau pemain tak bugar, pelatih bingung memilih dia untuk menjalankan taktikal dalam pertandingan. Karena secara skill, sebenarnya kita enggak kalah. Nyatanya, Mangkualam bisa bersaing di , dan Egy Maulana Vikkri di Eropa.

Tinggal bagaimana memanage tadi. Pemain kita postur tubuhnya kecil tapi ototnya harus dibesarkan lagi. Intinya strenght harus ditingkatkan supaya level mereka tak hanya 70 menit tapi 90 menit, itu kan mengalami proses juga.”

Supriyono juga memberikan pesan-pesannya kepada para pemain Timnas untuk tetap komitmen dengan passion yang mereka pilih di bidang sepakbola.

“Selain itu, harus memiliki attitude permainan yang baik, yang terakhir harus respect. Karena tanpa respek sejago apapun pemain tidak akan bisa berlangsung lama. Tanpa respect mereka juga tak bisa memiliki prestasi yang membanggakan. Tetap semangat, jaga kondisi, imunitas, karena tanpa kesehatan, sepakbola tidak akan berjalan dengan baik,” ucap dia.

Berita Terkait