SOS Layangkan Tujuh Usulan Jelang Digelarnya Kongres Tahunan PSSI

Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) sebentar lagi bakal mengadakan kongres tahunan yang digelar di Hotel Raffles, Jakarta, pada Sabtu (29/5/2021).

Rencana digelarnya kongres tahunan PSSI itu mendapatkan sorotan serius dari koordinator Save Our Soccer (SOS), Akmal Marhali. Ia ingin agar kongres PSSI digelar secara serius dan bukan hanya dijadikan ajang reuni.

Acara tahunan itu diharapkan lahir keputusan terbaik demi tercapainya prestasi sepak bola Indonesia. Pemiliki suara juga diminta untuk tidak takut dalam menyuarakan keluh kesahnya.

Save Our Soccer juga telah memberikan tujuh usulan dalam kongres PSSI 2021 yang bisa sobat INDOSPORT lihat di slide kedua artikel ini.

“Jangan lagi Kongres hanya sebatas “arena reuni” yang selesai hanya dua jam seperti sebelumnya!,” kata Akmal Marhali.

Sementara itu, Kongres PSSI 2021 bakal dihadiri oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Zainudin Amali, perwakilan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), dan Komite Olahraga Indonesia (KOI). Kemudian ada juga delegasi FIFA dan AFC yang akan hadir secara virtual.
Baca Juga

“Selamat datang kepada peserta Kongres. Semoga Kongres besok berjalan sukses, lancar, dan semuanya dapat menjalankan hasil Kongres,” kata Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan, dilansir dari laman resmi PSSI.

“Saya juga menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Bapak Menpora dan sejumlah undangan lainnya yang berkenan hadir,” ucapnya menambahkan.

Berikut Tujuh Usulan SOS:

1. Memperjelas status badan hukum PSSI. Apalagi, dua tahun kedepan PSSI akan menggelar hajatan akbar Piala Dunia U-20 yang pastinya akan bersinggungan dengan pendanaan baik dari FIFA, Pemerintah maupun pihak ketiga. Misalnya, mencontoh FA Inggris atau FA Hongkong sebagai entity commercial berbentuk Ltd (perseroan terbatas).

2. Penyelesaian kasus legalitas dualisme klub yang belum tuntas. Ini bisa jadi bom waktu bila tidak segera dicarikan solusi terbaik. Misalnya, status Arema Fc dan Arema Indonesia.

3. PSSI perlu segera menerbitkan aturan jual beli klub agar tak lagi terjadi jual beli lisensi yang dilarang FIFA. Termasuk di dalam regulasi yang jelas dan tegas soal perpindahan home base, pergantian nama dan re-branding logo. Jangan sampai semua tanpa aturan dan berjalan seperti hukum rimba atau semaunya.

4. Penegasan tentang cross-ownership (kepemilikan ganda) yang dilarang FIFA karena berpotensi match fixing. Tidak boleh ada personal dan atau perseroan yang mengendalikan lebih dari satu klub. PSSI juga harus merevisi Statuta-nya agar tidak bertentangan dengan regulasi FIFA.

5. PSSI perlu mengeluarkan Regulasi untuk suporter agar tak lagi ada korban nyawa di lapangan dan tak ada penyelesaiannya hukum.

6. Kejelasan status PT Liga Indonesia Baru (LIB) sebagai league goverment body. Baik secara legalitas maupun kepemilikan sahamnya. Termasuk peralihan saham dari klub degradasi ke klub promosi.

7. Liga 2 harus mempunyai league governing body (operator) sendiri. Agar lebih mandiri dan lebih maksimal pengelolaannya.