Cerita Ketua Viking yang Dipaksa Bermain di Film Garapan Organisasinya

Bandung, melakukan sebuah gebrakan baru setelah membuat sebuah film mini series.

Film garapan Persib Club tersebut berjudul Menara atau singkatan dari Menata Rasa.

Film musim pertama itu direncanakan memiliki empat episode.

Untuk penayangannya, klub memanfaatkan kanal Youtube resmi mereka.

Menurut Ketua Viking Persib Club, , pihaknya sangat mempersiapkan semuanya dengan sangat matang.

Meski begitu ia tak memungkiri bahwa masih ada beberapa pemain yang terlihat gugup.

Namun ia tak terlalu mempermasalahkannya.

Sebab, ia bisa memaklumi bahwa beberapa anggota Viking Persib Club yang bermain bukan berasal dari dunia akting.

Bahkan ia pun harus memaksakan bermain karena ajakan para anggotanya.

“Saya tau orang-orang yang berjiwa itu seperti apa, terburu-buru misalkan atau apapun itu. Jadi ya dimaklum sama saya karena saya sudah tau.”

“Jadi saya disuruh ikut serta dan akhirnya saya main karena memaksakan, anggota meminta saya untuk main,” katanya kepada Bolasport.com, Minggu (23/5/2021).

Sebelumnya Herru Joko enggan untuk bermain di film Menara karena tahu efek yang akan terjadi jika ikut serta pada film tersebut.

Ia mengatakan saat ini lebih banyak pihak yang mengenal dirinya dan rekan lainnya setelah bermain di film garapannya itu.

Tercatat hingga hari Sabtu, 22 Mei 2021 pukul 23.00, film menara sudah ditonton oleh 101 ribu orang.

“Main film tuh kan gitu efeknya, di jalan jadi banyak yang kenal. Nah, ternyata si menara itu positif dan sudah ditonton lebih dari 50 ribu orang apalagi zaman sekarang kan sudah dimudahkan untuk promosi,” jelasnya.

“Jadi efeknya tuh dijalan ada yang manggil-manggil itu, Lala dan lain-lain. Bahkan tadi saja saat bermain bola banyak juga yang membicarakan tentang itu,” tambahnya.

Bak nasi sudah menjadi bubur, akhirnya Herru Joko mau tidak mau ikut serta dalam film tersebut.

Selain menjadi pemain, Herru Joko menjabat sebagai Eksekutif Produser.

Ia juga menceritakan bahwa sebelumnya film tersebut akan total dimainkan oleh para profesional.

Hanya karena dirinya dipaksa untuk main, alhasil ia dan yang lain memutuskan untuk mengikut sertakan anggota yang lainnya.

“Kalau saya kan sudah tahu efeknya akan seperti itu, tetapi anggota lain memaksa untuk main. Padahal saya sudah bilang tidak bisa akting. Apalagi kalau yang namanya film itu harus berhubungan dengan seni teater.

“Tadinya tidak akan kami-kami, jadi saya bilang ya sudah 70% orang teater 30% anggota viking,” tutupnya.

Berita Terkait