Nostalgia Oktavianus, Bersinar Bersama Sriwijaya FC tapi Tidak Beruntung dengan Timnas Indonesia

Aksi Oktavianus sebagai penyerang sayap kiri yang cepat nan lincah dengan umpan silang akurat pernah mewarnai pentas Liga Indonesia. Pencapaian terbaik pria kelahiran Padang, 1 Oktober 1981 ini adalah meraih trofi juara Liga Indonesia 2008 ketika kerkostum Sriwijaya FC.

Bersama klub asal Palembang itu pula, ia juga mencetak hattrick juara yakni pada musim 2008, 2009 dan 2010. Kiprah apiknya bersama Sriwijaya membuat nama Oktavianus pernah masuk dalam daftar panggil Tim Nasional Indonesia pada 2007 dan Piala 2010.

Tapi, ia gagal berkiprah bersama skuat Garuda di kedua ajang itu. “Ini yang namanya perjalanan hidup. Saya selalu gagal memperkuat Indonesia karena cedera parah,” kenang Oktavianus dalam channel Youtube Minangsatu.

Kegagalan pertama ketika Oktavianus memutuskan mundur dari pemusatan latihan Timnas Indonesia di Samarinda jelang Piala Asia 2007. Saat itu, Oktavianus mengalami cedera engkel yang didapatnya ketika Sriwijaya menghadapi tuan rumah di Liga Indonesia.

“Saya kena tekel pemain asing Persiraja. Waktu kembali ke Palembang, engkel saya di rontgen dan dinyatakan tak ada masalah. Saya pun memenuhi panggilan timnas untuk TC Piala Asia 2007 di Samarinda,” ungkap Oktavianus yang mengawali karier profesional di klub kota kelahirannya, Semen Padang.

Tapi, setelah tiga pekan di Samarinda, Oktavianus merasa engkelnya bermasalah dan kesulitan mengikuti program pelatih Timnas Indonesia, Ivan Kolev.

Ia pun memutuskan mundur dari pelatnas, tapi Kolev sempat menahannya dan menyarankannya untuk melakukan rontgen ulang. Ternyata ada tulang engkelnya yang retak. Oktavianus pun gagal berkiprah di Piala Asia 2007.

Gegara cedera pula yang membuat Oktavianus gagal jadi bagian dari skuad Garuda di Piala AFF 2010. Kali ini ia mengalami cedera hamstring sehingga tidak bisa memenuhi panggilan timnas.

“Meski dua kali gagal, saya tidak kecewa. Bagi saya inilah perjalanan hidup. Yang terpenting saya sudah berusaha keras membuktikan diri bisa berprestasi di sepak bola,” terang Oktavianus.

Oktavianus mengaku memang sangat termotivasi membuktikan dirinya tak salah memutuskan sepak bola sebagai pilihan hidup untuk mengangkat derajat keluarganya. Apalagi, awalnya, Oktavianus tak pernah berpikir bisa menjadi pemain sepak bola profesional.

“Saya baru serius bermain sepak bola pada usia 16 tahun. Sebelumnya, saya lebih banyak bermain bulutangkis dan gulat,” ungkap Oktavianus.

Setahun berlatih sepak bola bersama Kinantan, klub amatir di Padang, Oktavianus mengikuti turnamen Piala Semen Padang. Pada ajang itu, klubnya berhasil menembus final sebelum takluk ditangan Padang. Usai turnamen, Oktavianus mendapat panggilan mengikuti pemusatan latihan (TC) tim Pratama Semen Padang. ”

Saya diberitahu oleh coach Ricky Darman untuk masuk TC. Terus terang saya tak mengerti apa itu TC. Tapi, saya pun memutuskan mencobanya,” kenangnya.

Perjalanan awal Oktavanius di Semen Padang Pratama tak berjalan mulus. Ia malah meninggalkan timnya karena merasa program latihan yang dijalaninya tak sesuai yang ia bayangkan.

“Dalam benak saya awalnya adalah bermain sepak bola di lapangan seperti yang saya lakukan sebelumnya. Ternyata latihannya sangat berat termasuk latihan fisik,” tutur Oktavianus.

Oktavianus pun pulang ke rumahnya. Namun, Ricky Darman yang melihat potensi yang dimiliki Oktavianus datang mendatangi rumahnya untuk menemui kedua orangtuanya. Berkat bujukan pelatih dan orangtuanya, Oktavianus pun akhirnya kembali berlatih di Semen Padang Pratama.

Itupun Oktavianus butuh waktu sepekan untuk merenung. “Saya akhirnya bertekad kembali ke sepak bola. Karena saya yakin sepak bola bisa merubah kehidupan saya dan keluarga,” kenang Oktavianus.

Bersama Semen Padang Pratama, Oktavianus bisa berkiprah di level nasional. Ia pun kemudian mendapat ikatan kontrak dari manejemen Semen Padang pada 2003.

Tiga musim bersama Semen Padang, Oktavianus pun memutuskan merantau dengan menerima tawaran Sriwijaya FC. Dari klub Palembang itu, Oktavianus berturut-turut berkostum Jakarta, Bantul dan Persik Kediri. Di klub terakhir inilah, Oktavianus kemudian memutuskan gantung sepatu pada 2017 dan beralih profesi sebagai pelatih.

Berita Terkait