Kualitas Permainan di Piala Menpora 2021 Dianggap Merosot Drastis

Pelatih asal Brasil, Jaino Matos mengomentari performa para pemain di 2021. Berdasarkan pengamatannya, Jaino Matos menilai performa pemain yang tampil secara keseluruhan mengalami penurunan drastis dari segi kualitas.

“Dari semua pertandingan yang saya tonton, jelas sekali terlihat penurunan drastis kualitas permainan,” ujar Jaino Matos kepada Kompas.com.

Pelatih yang ikut merintis tersebut mengatakan ada lebih dari satu faktor yang memengaruhi penurunan performa ini.

Faktor utama tentu adalah vakumnya kompetisi 2020 selama satu tahun terakhir yang membuat seluruh tim kembali dari titik terendah persiapan.

Faktor yang tidak kalah penting adalah kemampuan atau kecakapan sebuah tim memaksimalkan kembali potensinya sendiri.

Faktor ini kemudian dipecah lagi menjadi faktor SDM pelatih dan pemain, serta sarana prasarana yang menyertai.

Pemain Persib BandungDede Kusnandar dikawal ketat pemain Jakarta Riko Simanjuntak mengejar bola pada laga final leg kedua yang berakhir dengan skor 1-2 di Stadion , Solo, pada Minggu (25/4/2021) malam WIB.

Pemain Persib BandungDede Kusnandar dikawal ketat pemain Riko Simanjuntak mengejar bola pada laga final leg kedua Piala 2021 yang berakhir dengan skor 1-2 di , Solo, pada Minggu (25/4/2021) malam WIB.(KOMPAS.com/Suci Rahayu)

“Apakah pelatih tahu porsi latihan setiap pemain? Setiap pemain punya ‘kepribadian’ stimulus dan porsi berbeda-beda. Materi latihannya juga berbeda-beda,” ujar mantan pelatih Balikpapan tersebut.

“Satu lagi, apakah pemain latihan sungguh-sungguh? Itu tidak bisa dijawab tanpa GPS (alat ukur mobilitas pemain di dalam lapangan), dibantu dengan ahli yang bisa membaca dan kemudian dijadikan bahan untuk materi latihan,” imbuhnya.

Apalagi, sekarang ada jarak cukup jauh antara Piala Menpora 2021 yang selesai pada 25 April 2021 dengan start Liga 1 yang direncanakan pada medio Juni.

Mantan staff pelatih Singapura tersebut melanjutkan, secara keilmuan, waktu 20 hari saja cukup untuk meningkatkan kondisi pemain secara signifikan.

Namun, ini dengan catatan ada kesungguhan total dari pelatih dan para pemain.

Karena itu dia merasa semua klub harus punya staf yang punya wawasan mengenai sports science dan perkembangannya.

Faktor-faktor yang disebutkan diatas semuanya mampu dijabarkan lebih baik dengan sports science.

Sehingga, tim tahu kekurangan dan kelebihan serta cara memaksimalkannya.

“Makanya sangat dibutuhkan departmen sports science di tubuh klub. Demi menjaga kepentingan klub, minimal pemain seharusnya berlatih dan bermain dengan dedikasi 100 persen, sedangkan kenyataannya tidak sesuai ekspektasi,” tutur Jaino.

“Saya harap yang disampaikan ini bisa menjadi stimulus untuk memikirkan manajemen sepak bola. Selama ini orientasi klub hanya menang-menang-menang, beli pemain hebat. Kalau pola latihan dan kesungguhan tidak ada ya percuma,” pungkasnya.

Berita Terkait