Perjalanan Anang Ma’ruf, Pemain Multi-Posisi yang Sukses Raih 3 Trofi Juara Liga Indonesia

Nama Ma’ruf kental mewarnai perjalanan Liga dan Timnas Indonesia pada pertengahan 1990-an hingga 2000-an. Pencapaian terbaiknya adalah membawa menjuarai Liga Indonesia 1996/1997 dan 2004. Ia juga menjadi pilar utama Persija Jakarta ketika meraih trofi juara musim 2000/2001.

Selain Persebaya dan Persija, pria kelahiran 28 Mei 1976 ini juga pernah berkostum Deltras Sidoarjo, Gresik , dan Mojokerto Putera. Bersama klub terakhir, Anang Ma’ruf kemudian memutuskan gantung sepatu pada 2013.

Dalam channel youtube Pinggir Lapangan, Anang Ma’ruf mengungkap perjalanan panjang karier sepak bolanya yang diawali dengan bergabung bersama SSB Indonesia Muda Surabaya ketika masih berusia 10 tahun.

“Ayah yang mengarahkan saya berlatih di Indonesia Muda yang dikenal banyak melahirkan pemain andal Surabaya dan Timnas Indonesia,” kenang Anang Ma’ruf.

Peruntungan Anang mulai terbuka ketika namanya masuk dalam daftar skuat Persebaya junior bersama duetnya di Indonesia Muda, Bejo Sugiantoro.

“Saya memang awalnya menjadi bek tengah. Kebetulan di IM, saya seangkatan dengan Bejo. Kami menjadi bagian Persebaya junior selama dua musim, yakni 1992 dan 1993,” ujar Anang.

Pada 1993, Anang Ma’ruf membawa Persebaya junior menembus final Piala 1993. Sayang, Persebaya gagal meraih gelar juara setelah ditekuk PSB Bogor melalui adu penalti di Stadion .

Meski gagal, nama Anang Ma’ruf terpantau oleh pemandu bakat PSSI untuk masuk dalam daftar tim junior yang disiapkan menimba ilmu di Italia, yaitu PSSI Primavera.

Namun, Anang Ma’ruf tidak memenuhi panggilan tersebut karena tidak diizinkan oleh Sumoprawiro, ketua umum Persebaya, yang juga Wali Kota Surabaya. Ia baru ikut dalam pemanggilan kedua bersama tiga rekannya, Bejo, Nurul Huda, dan Totok Hariyanto. Setelah menjalani latihan di Jakarta, Anang, Bejo, dan Huda lolos seleksi dan berangkat ke Italia.

“Perasaan saya itu berkecamuk, antara senang, bangga, dan juga sedih karena harus berpisah dengan keluarga,” kenang Anang Ma’ruf.

Jadi Bek Kiri di Program Primavera

Ketika berada di Italia, Anang Ma’ruf diplot menjadi bek kiri oleh Danurwindo, pelatih yang menangani PSSI Primavera. Kebetulan saat itu, posisi bek kiri memang kosong.

Anang mengaku awalnya mengalami rasa canggung bermain di posisi tersebut. Namun, dengan keinginan kuat dan terus belajar, Anang kemudian menjadi terbiasa setelah bermain dalam empat laga di kompetisi Primavera.

Belakangan, penampilan Anang dinilai menonjol oleh pemandu bakat Sampdoria. Ia pun sempat diikutkan dalam tur Asia Sampdoria pada 1995. Anang mengikuti jejak rekannya, Kurniawan Dwi Yulianto, yang lebih dulu merasakan pengalaman sama pada 1994.

Anang menyimpan pengalaman lucu ketika mengikuti tur Sampdoria. Ketika di Hong Kong, ia mendapatkan panggilan baru dari Roberto Mancini, legenda Sampdoria dan Timnas Italia.

“Mancini memanggil sama dengan nama Mario karena sulit menyebut kata Ma’ruf,” kenangnya.

Jadi Gelandang dan Bek Kanan di Persebaya

Setelah berguru di Italia, nama Anang Ma’ruf masuk dalam skuat Timnas Indonesia di SEA Games 1995 yang digelar di Thailand. Sepulang dari ajang multievent itu, Anang bergabung di Persebaya pada musim 1995/1996.

Ia masuk saat kompetisi sudah berjalan. Pelatih Persebaya ketika itu, Sasho Kostov, yang berasal dari Bulgaria, menempatkan Anang bermain sebagai gelandang bersama seniornya, .

Semusim berikutnya, Anang kembali berganti posisi menjadi bek kanan. Kali ini dia ditugaskan bermain di posisi tersebut oleh mendiang Rusdi Bahalwan, pelatih Persebaya di Liga Indonesia 1996/1997. Seperti diketahui, Persebaya akhirnya meraih trofi juara untuk pertama kalinya di Liga Indonesia.

“Bangga rasanya menjadi bagian Persebaya meraih trofi juara selama puluhan tahun menunggu,” terang Anang.

Persebaya terakhir kalinya meraih trofi juara saat Perserikatan 1987/1988.

Bek kanan akhirnya menjadi posisi keberuntungan buat Anang. Setelah sukses bersama Persebaya pada musim 1996/1997, Anang kembali mengenyam trofi juara pada musim 2000/2001 bersama Persija Jakarta. Ia kemudian meraih trofi juara ketiga kalinya bersama Persebaya pada musim 2004. (bola.com)

Berita Terkait