Yudi Guntara, Legenda Persib yang Pensiun pada Usia Matang karena Cedera Lutut

Yudi Guntara pernah menjadi sosok sentral di lapangan tengah Persib Bandung pada era 1990-an.

Sebagai seorang gelandang, Yudi tak hanya piawai dalam mengirimkan umpan matang yang memanjakan barisan penyerang Persib untuk mencetak gol.

Dia juga dikenal sebagai salah satu gelandang tajam, karena sering mencetak gol penting untuk Persib.

Perjalanan karier Yudi sebagai pesepak bola dimulai pada tahun 1983, ketika dia bergabung bersama klub lokal Lembang, Perkesit.

Potensinya kemudian semakin terasah setelah masuk ke Diklat Salatiga. Dua tahun menimba ilmu sepak bola di Diklat Salatiga, Yudi kemudian pindah ke Diklat Ragunan pada 1985.

Di Diklat Ragunan, terus menerima pelatihan intensif. Bahkan sejumlah turnamen besar tingkat junior pun sempat di lakoninya.

Dari sini, Yudi mulai sering tampil bersama timnas Indonesia junior. Dia juga sempat ikut dalam pemusatan timnas di Jerman Barat pada 1986. Sejumlah turnamen internasional pun dilakoni Yudi, salah satunya kejuaraan dunia di Riyadh, Saudi Arabia.

Sejak usia remaja, potensi Yudi sebagai pesepak bola memang sudah muncul. Dia sempat dilirik oleh klub papan atas Galatama, .

Akan tetapi, Yudi memilih pulang ke Bandung karena kedua orang tuanya meminta dia untuk juga fokus melanjutkan pendidikan tingginya. Saat itu, Yudi baru saja menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA).

Pulang ke Bandung, Yudi pun ikut berlatih bersama Persib. Dia sempat bergabung dalam sejumlah uji tanding yang dilakoni klub berjulukan Maung Bandung itu.

Salah satunya, ketika Persib menjamu jawara Eredivisie, PSV Eindhoven pada 1987 di Stadion Siliwangi.

Selain itu, Yudi juga tampil dalam sejumlah uji tanding internasional yang dilakoni klub berjulukan Maung Bandung itu.

Salah satunya, ketika Persib berhadapan dengan PSV Eindhoven pada 1987, di Stadion Siliwangi.

Saat itu, Yudi belum resmi diikat oleh Persib. Bisa dibilang, statusnya masih menjadi pemain magang.

Yudi sempat mengutarakan keinginannya kepada pengurus Persib saat itu untuk tetap berada di Persib, namun juga meminta agar dia bisa mendapatkan beasiswa penuh untuk kuliah.

Hanya saja, keinginan tersebut gagal terealisasi. Justru, STIE Perbanas Jakarta yang kemudian menawari Yudi beasiswa untuk kuliah secara penuh. Kebetulan STIE Perbanas memiliki klub sepak bola yang berafiliasi dengan Persija Jakarta.

Melihat potensi Yudi, Persija pun meminang Yudi. Bersama Persija, Yudi berkontribusi membawa klub berjulukan Macan Kemayoran itu menempati posisi empat Kompetisi Perserikatan musim 1989/1990. Adapun gelar juara dalam kompetisi musim tersebut diraih Persib usai mengandaskan Persebaya Surabaya dengan skor 2-0.

Momen emas

Tampil impresif bersama Persija, Yudi kemudian diminta pulang ke Bandung untuk memperkuat Persib. Yudi pun menyanggupi tawaran tersebut. Hingga akhirnya, Yudi menjadi bagian dari skuad Persib di kompetisi Perserikatan musim 1990/1991.

Saat itu usia Yudi barus 20 tahun, namun dia sudah dipercaya untuk tampil di skuad utama bersama pemain-pemain sekaliber Iwan Sunarya, Ajat Sudrajat, Djadjang Nurdjaman, hingga Adeng Hudaya.

“Tentunya menjadi sebuah kebanggaan bagi saya yang pada saat itu masih 17 tahun sudah bisa bermain bersama tim senior. Sebab, sejak dulu itu untuk bisa menembus tim senior Persib itu tidaklah mudah,” kata Yudi kepada Kompas.com.

Bersama Persib, performa Yudi semakin menonjol. Dia pun masuk dalam jajaran pemain penting di skuad Persib kala itu. Pencapaian prestisius kemudian ditorehkan Yudi bersama Persib, ketika dia berkontribusi membawa Maung Bandung meraih gelar juara kompetisi Perserikatan musim 1993/1994. Prestasi gemilang berlanjut pada musim selanjutnya, kala Persib menjadi juara kompetisi I 1994/1995.

Performa apik Yudi nyatanya tak hanya diakui publik sepak bola nasional saja. Akan tetapi, permainannya di lapangan juga pernah mendapatkan pujian dan apresiasi dari dua pelatih legendaris dunia, dan Fabio Capello.

Pujian dari Rinus didapatkan Yudi ketika dia tampil bersama Persib dalam lanjutan pertandingan wilayah barat Liga Indonesia I melawan Banda Aceh. Dalam pertandingan berlangsung di Stadion Siliwangi, Kota Bandung itu Persib menang empat gol tanpa balas.

Rinus Michels yang kebetulan sedang berada di Bandung dan menyaksikan laga tersebut kemudian ditanya oleh para wartawan yang meliput laga tersebut. Dalam penuturannya, Rinus memuji performa Yudi dan dalam laga tersebut.

Adapun pujian dari Capello untuk Yudi datang ketika Persib bertanding dengan pada 1993. Dalam laga tersebut, Persib kalah delapan gol tanpa balas dari AC Milan. Akan tetapi, seusai laga, Capello memberikan apresiasinya atas permainan Yudi di lapangan.

Kepada media, Capello menyebut, Yudi tampil apik dan mampu beberapa kali melewati kawalan pemain Milan. Pergerakan Yudi sangat eksplosif sehingga sering kali menyulitkan. Capello tak segan menyebut Yudi layak tampil di kompetisi besar Eropa sekelas Serie A Italia.

“Ya, mungkin, waktu di pertandingan itu saya lagi bagus aja mainnya. Jadi dapat pujian dari Fabio Capello. Namun, pujiannya juga tidak langsung disampaikan kepada saya, dia bilangnya di sesi konferensi pers setelah pertandingan,” ungkap Yudi.

Pensiun karena cedera lutut

Sejak bergabung bersama Persib pada tahun 1990, banyak momen emas yang dirasakan Yudi dalam kariernya sebagai pesepak bola. Dari mulai meraih gelar juara kompetisi, hingga mendapatkan pujian dari pelatih legendaris dunia.

Akan tetapi, karier sepak bola Yudi tidak berlangsung lama. Cedera lutut yang dialaminya memaksa Yudi gantung sepatu pada usia 28 tahun. Sangat disayangkan tentunya, karena bagi pesepak bola, usia 27 atau 28 tahun merupakan usia emas mereka dalam perjalanan karier sepak bola.

Yudi mengungkapkan, cedera lutut yang dialaminya itu bukan disebabkan karena benturan atau tekel dari pemain lawan. Melainkan proses alamiah. Diakui Yudi, sejak usia 13 tahun dirinya sudah mendapatkan pola latihan intensif seperti halnya pesepak bola profesional.

“Jadi begini, karena sejak usia 13 tahun itu saya sudah menjalani latihan intensif pagi dan sore dan tidak sesuai dengan porsi latihan untuk pemain seusia saya. Dan itu terus berlangsung selama saya berkiprah di usia junior,” ujar Yudi.

Hanya saja, latihan keras yang pernah dijalani Yudi di usia junior malah membuat bantalan lututnya terkikis sedikit demi sedikit. Pada tahun 1996, cedera lutut yang dialami Yudi sudah sering kambuh.

Akibatnya, dia jarang bermain selama 90 menit. Bukannya kalah saing, namun karena Yudi hanya mampu main selama 45 menit saja. Lewat dari itu, maka Yudi bisa merasakan ngilu di bagian lututnya. Pada tahun 1999 Yudi pun akhirnya memutuskan pensiun di usia 28 tahun.

“Hanya saja, karena porsi latihan yang saya jalani sewaktu usia remaja itu tidak sesuai, berpengaruh pada kondisi kaki saya. Bantalan lutut saya terkikis,” ungkap Yudi.

“Nah mulai kerasa itu di tahun 1996, saya sudah tidak kuat main selama 90 menit, paling 45 menit saja sudah terasa linu. Akhirnya tahun 1999 saya gantung sepatu,” tutur dia.

Berita Terkait