Memoar Masa Kelam Persib pada Liga Indonesia 2003

Berstatus sebagai tim besar dan berprestasi di kancah sepak bola , tak menjamin kiprah Bandung dalam mengarungi kompetisi sepak bola nasional selalu berjalan mulus.

Dalam beberapa masa, klub berjulukan Maung Bandung itu juga sempat mengalami keterpurukan. Ada sejumlah momen keterpurukan yang pernah dialami Persib dalam kiprahnya di kompetisi sepak bola Indonesia.

Paling dikenang tentunya saat Persib berkiprah di musim 2003. Saat itu, Persib benar-benar terpuruk hingga hampir terdegradasi ke divisi I, atau strata kedua kompetisi sepak bola Indonesia.

Miris, mungkin itulah diksi yang tepat dalam menggambarkan kondisi Persib pada masa itu. Bagaimana tidak, keterpurukan yang dialami Maung Bandung terjadi ketika mereka mulai membuka diri untuk menggunakan jasa pemain asing dalam skuadnya.

Sepanjang sejarah perjalanan Persib berkisah, klub yang berdiri sejak tahun 1933 itu memang memiliki kecenderungan memperkuat skuadnya dengan pemain lokal hasil binaan sendiri.

Tradisi tersebut tetap dipertahankan Persib ketika PSSI mulai memperbolehkan penggunaan pemain asing bagi kontestan kompetisi sepak bola Indonesia.

Kebijakan tersebut mulai berlaku ketika kompetisi Liga Indonesia I bergulir pada musim 1994/1995.

Kala itu, Persib menolak ikut dalam arus utama. Maung Bandung memilih untuk tetap mengandalkan pemain lokal hasil binaan sendiri saat tampil dalam Liga Indonesia I.

Keputusan yang terbilang tepat, karena meski tak diunggulkan karena materi pemain yang kalah mentereng dengan para pesaingnya, Persib tetap bisa menunjukkan taringnya sebab mampu meraih gelar juara Liga Indonesia I.

Kebijakan pengurus Persib untuk tetap mengandalkan pemain lokal dalam skuadnya bertahan hingga akhir musim 2002.

Menyongsong Liga Indonesia musim 2003 pengurus Persib mulai mengubah kebijakan transfernya dengan mendatangkan pemain asing untuk memperkuat skuadnya.

Saat itu, para pengurus Persib mendatangkan empat pemain asal Polandia; Mariusz Mucharski, Piotr Orlinski, Maciej Dolega, dan Pavel Bochian. Rombongan pemain asing tersebut datang bersama pelatih asing yang juga berasal dari Polandia, Marek Andrejz Sledzianowski, yang ditunjuk sebagai pelatih kepala Persib menggantikan posisi Deny Syamsudin.

Alasan pengurus Persib mulai terbuka untuk mendatangkan pemain asing dalam tubuh tim beralias Pangeran Biru itu ditengarai karena semakin menurunnya prestasi klub. Kehadiran pemain asing, tentu diharapkan bisa mengangkat prestasi tim.

Akan tetapi, yang terjadi kemudian justru jauh di luar ekspektasi. Para pemain asing Polandia yang didatangkan persib gagal bersinar. Performa mereka di lapangan bahkan jauh dari harapan. Persib pun terpuruk. Dari awal kompetisi dimulai hingga masuk ke pertengahan musim, posisi Persib di tabel klasemen tak pernah beranjak dari posisi juru kunci.

Kapten Persib pada masa itu, Dadang Hidayat bercerita, mengenai kondisi tim Persib pada Liga Indonesia 2003. Dahi, sapaan akrab Dadang Hidayat mengatakan, kompetisi Liga Indonesia 2003 menjadi pengalaman terburuk yang pernah dialami Dahi selama kariernya sebagai pesepak bola.

“Bagaimana tidak, bayangkan saja, selama setengah musim itu kami terus berada di posisi paling bawah. Saya benar-benar stress. Bahkan, untuk keluar rumah saja rasanya malu sekali,” kata Dahi kepada Kompas.com, belum lama ini.

Mengenai penyebab keterpurukan Persib pada Liga Indonesia 2003, Dahi enggan membebankan semua kesalahan kepada para pemain Polandia dan Marek selaku pelatih kepala. Dikatakan Dahi, persiapan Persib dalam mengarungi Liga Indonesia 2003 memang kurang maksimal.

Bisa dibilang, persiapan Persib kala itu kalah cepat dengan kontestan lainnya. Hal tersebut, membuat Persib kesulitan mendapatkan pemain incarannya, karena sudah keburu di kontrak tim lain. Akibatnya, skuad Persib saat itu lebih banyak dihuni pemain muda.

“Waktu itu pemain seniornya kan hanya saya, Asep Dayat, dan Udin Rafiudin. Selebihnya adalah pemain muda dan tambahan tiga pemain asing itu,” ungkap Dahi.

Menyoal performa para pemain asing Polandia, Dahi tidak menampik mereka memang kurang memberikan kontribusi maksimal bagi tim. Akan tetapi, Dahi menuturkan, ada sejumlah faktor yang membuat permainan mereka kurang berkembang. Salah satunya, proses adaptasi yang lambat dan juga shock culture.

“Bahkan, saat Marek itu pertama datang ke Indonesia, kita kan ada satu uji coba. Dia kaget dengan kultur sepak bola Indonesia yang keras. Jadi, menurut saya, ini hanya soal adaptasi yang tidak berjalan mulus,” tutur Dahi.

Hal tersbeut juga diakui oleh Mucharski, dalam wawancara bersama Kompas.com beberapa waktu lalu, Mucharski mengakui bahwa pada saat itu dia dan rekan-rekannya dari Polandia tidak bisa memberikan kontribusi maksimal untuk tim.

“Alasan sederhananya adalah, kami dituntut untuk bisa membawa tim selalu memenangi pertandingan dan mencetak banyak gol. Tetap, yang terjadi sebaliknya. Kami hanya tidak bermain dengan baik, dan kami menelan banyak hasil buruk,” kata Mucharski.

Kesetiaan

Meski dalam kondisi terpuruk, Persib tidak pernah ditinggalkan oleh bobotoh. Saat Persib bertanding, Stadion Siliwangi yang kala itu menjadi markas Maung Bandung tetap penuh sesak dengan puluhan ribu orang beratribut biru khas Persib.

Dahi mengakui, bobotoh adalah suporter yang luar biasa. Dalam kondisi apapun, bobotoh selalu mendampingi perjuangan tim. Bahkan, ketika Persib tampil dalam babak play-off penentuan promosi dan degradasi, bobotoh tetap mendukung perjalanan tim hingga akhirnya Persib lepas dari jerat degradasi.

“Bobotoh itu sangat luar biasa, dalam kondisi apapun mereka tetap mendukung kami. Waktu tahun 2003, Stadion Siliwangi itu selalu penuh meski performa kami sedang turun. Bahkan ketika babak play-off di Solo pun bobotoh hadir ke sana untuk mendukung kami,” tutur Dahi.

Kesetiaan bobotoh dalam mendukung tim yang mereka cintai juga diungkapkan Mucharski. Mantan pemain Wisla Krakow itu menyatakan penyesalannya, karena tidak bisa membalas kesetiaan dukungan bobotoh yang luar biasa dengan prestasi yang mereka harapkan.

“Bagi saya, bobotoh adalah suporter yang luar biasa. Mereka selalu bersorak dan memberikan dukungan kepada kami. Tetapi, pada saat itu, kami tidak bisa memberikan apa yang mereka inginkan, yaitu kemenangan,” ucap Mucharski.

Setelah terpuruk selama putaran pertama Liga Indonesia 2003, pengurus Persib pun memutuskan merombak skuadnya. Posisi Marek digantikan Juan Antonio Paez, pelatih asal negeri Cile.
Paez datang membawa serta tiga pemain asal Cile lainnya untuk menggantikan posisi trio Polandia yang juga didepak. Ketiga pemain tersebut adalah; Claudio Lizama, Alejandro Tobar, dan Rodrigo Sanhueza

Kehadiran Paez dan tiga pemain Cile boyongannya ternyata sukses mengangkat prestasi tim Persib. Perlahan tetapi pasti, Maung Bandung bangkit dan keluar dari posisi juru kunci. Persib pun terselamatkan dari ancaman degradasi setelah melalui babak play-off promosi degradasi dengan catatan apik.

Persib lolos dari ancaman degradasi setelah mengunci kemenangan atas dan Yogyakarta dengan skor 1-0, dan menahan imbang 4-4.

“Kalau sampai degradasi, itu nama saya akan tercatat dalam sejarah, membawa Persib degradasi. Jadi bebannya memang sangat berat sekali,” tutur Dahi.

Berita Terkait