Kisah Antonio Claudio: Pemain Asing Asal Brasil Merantau ke Padang, Jadi Mualaf dan Ganti Nama Fakhruz Zaman

Antonio Claudio termasuk pelaku sepak bola asing yang lama berkarier di Liga baik sebagai pemain dan pelatih. Pria berdarah Brasil ini sudah berkiprah di kompetisi kasta tertinggi Tanah Air sejak 1994.

Pencapaiannya terbilang lumayan dengan meraih trofi juara Liga Indonesia ketika berkostum Jakarta pada musim 2000-2001.

Di Liga 2, Toyo menjadi pilar utama PSP Padang ketika promosi ke kasta tertinggi pada 1996. Toyo adalah kapten ketika menembus Liga Super Indonesia pada 2010.

Tak hanya sukses sebagai pemain. Pada Liga 1 2018, Toyo yang menjadi asisten pelatih Stefano Teco di Persija sukses menggengam gelar juara.

Dalam channel Youtube Minangsatu, Toyo mengungkap perjalanan kariernya di kompetisi Indonesia yang diawali oleh tawaran sang agen, Angel Ionita.

“Waktu itu, saya bersama 24 pemain asing datang ke Indonesia untuk diseleksi. Pemain yang dinilai layak, ditawarkan kepada klub peserta Liga Indonesia yang berminat memakai jasa pemain asing,” kenang Toyo.

Toyo mengaku, ketika pertama kali ditawari oleh Angel untuk berkarier di Indonesia, ia sempat bingung.

“Saya sama sekali tak pernah mendengar nama Indonesia. Baru setelah ditawari oleh Angel, saya pun mencari tahu tentang Indonesia lewat peta. Saya juga berusaha mendapatkan informasi terkait sosial dan budaya Indonesia. Tapi, tak banyak yang saya dapatkan,” ujar Antonio Claudio yang saat itu masih berusia 21 tahun dan sempat semusim berkiprah di Liga Portugal.

Momen Tiba di Indonesia

Tiba di Indonesia dan menjalani seleksi, Antonio Claudio pun pertama kali berlabuh di Petrokimia Putera. Tapi, di klub Gresik itu, ia hanya sempat mengikuti sesi latihan.

“Saya tidak tahu apa pembicaraan antara manajemen Petrokimia dan Semen Padang sehingga saya akhirnya terbang ke Padang untuk berkiprah di Liga Indonesia edisi perdana.”

Bersama Semen Padang (SP), Toyo gagal menembus 8 Besar karena timnya hanya bertengger di peringkat lima Wilayah Barat.

Seperti diketahui, -1995 dibagi dua wilayah, Barat dan Timur. Empat klub teratas tiap wilayah lolos ke putaran 8 Besar sampai final yang berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. Semusim kemudian, Toyo berkostum tim Padang lainnya, PSP Padang yang bersaing di Divisi I (Liga 2).

“Usai musim 1994-1995, saya pulang liburan ke Brasil. Disana, saya mendapat telpon dari pengurus PSP yang mengajak saya jadi bagian tim. Saya pun menerimanya karena PSP menargetkan lolos ke (Liga 1) musim berikutnya,” terang Toyo yang akhirnya membawa PSP Padang ke kasta tertinggi.

Tiga musim bersama PSP, Toyo hengkang ke Surabaya pada 2000. Setelah itu, ia berpindah ke Persija dan kemudian meraih trofi juara pertamanya di kasta tertinggi sertelah mengalahkan juara bertahan Makassar 3-2 pada laga final yang berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno, 7 Oktober 2001.

Nyaman Menjadi Mualaf

Dalam kehidupan kesehariannya di luar sepak bola, Toyo juga dikenal sebagai pemain asing yang memilih berstatus mualaf. Ia memeluk agama Islam pada 2000.

“Saya jadi mualaf atas keinginan sendiri. Sebelumnya, saya mendapat tuntunan dari guru agama yang didatangkan almarhum Pak Zamzami (manajer PSP). Saya pun belajar cara melakukan salat, bacaannya. Alhamdulillah, saya berterima kasih pada beliau,” ungkap Toyo yang kemudian memiliki nama Islam, Fakhruz Zaman.

Setelah bulat memilih jadi mualaf, Toyo sempat mengabari keluarga di Brasil.

“Alhamdulillah, ibu saya menyerahkan sepenuhnya ke saya untuk membuat keputusan. Beliau hanya berpesan agar saya bertanggungjawab dengan keputusan itu,” kata Toyo.

Setelah memeluk Islam, Toyo mengaku nyaman menjalani kehidupannya bersama sang istri, Deria Eldesmarni serta kedua anaknya, Priscilia Claudia dan Claudio Beckham.

“Saya beruntung berada dalam lingkungan yang taat menjalankan agama Islam,” pungkas Toyo.

Berita Terkait