Piala Dunia U-20 Ditunda, CEO PSIS Semarang Wanti-wanti Soal Infrastruktur

Penundaan diharapkan tak membuat pemerintah lepas tangan terhadap infrastruktur yang sudah dibangun.

FIFA telah mengumumkan bahwa di urung digelar karena pandemi Covid-19.

Gelaran Piala Dunia U-20 akan kembali bergulir pada 2023 dengan Indonesia tetap menjadi tuan rumah.

Penundaan ini berdampak pada banyak aspek, termasuk stadion yang telah direnovasi oleh pemerintah.

CEO PSIS Semarang, , berharap infrastruktur seperti stadion yang telah dibangun tak terbengkalai akibat keputusan FIFA ini.

“Tentunya semua pihak kecewa dengan penundaan Piala Dunia U-20. Namun ada catatan terkait infrastruktur. Pemerintah dalam hal ini kementerian terkait dan pemerintah daerah tidak boleh lepas tangan soal infrastruktur,” kata Sukawi.

“Stadion-stadion yang sudah dibenahi itu harus tetap dirawat walaupun Piala Dunia U-20 tidak jadi. Jangan sampai Piala Dunianya tidak jadi lantas infrastrukturnya dibiarkan. Eman-eman (sayang), biar nanti tahun 2023 Indonesia benar-benar siap kalau stadionnya dari sekarang terus dirawat,” ucap lelaki yang juga anggota Komisi X DPR RI itu.

Ancaman semakin besar mengingat pandemi Covid-19 yang masih belum mereda di Indonesia.

Vakumnya sepak bola bisa membuat pembangunan stadion yang sudah dilakukan menjadi sia-sia. Yoyok tak ingin hal tersebut terjadi.

“Di tengah pandemi Covid-19 kan tidak ada kompetisi, ini rawan banyak infrastruktur olahraga tak terurus,” kata Yoyok.

“Ini yang harus jadi catatan pemerintah dan terutama yang disiapkan untuk Piala Dunia U-20 ini dirawat dengan baik,” Yoyok memungkasi.

Piala Dunia U-20 di Indonesia rencananya akan dimainkan di enam stadion yakni Stadion Utama Gelora Bung Karno (Jakarta), (Bandung), Stadion Kapten (Bali), Stadion Gelora Jakabaring (Palembang), (Solo), dan Stadion (Surabaya).

Berita Terkait