Irfan Bachdim Ungkap Pahit Manis Bermain di Belanda, Indonesia, Thailand, dan Jepang

Nama Irfan Bachdim meroket ketika tampil bersama Timnas di 2010. Meski kembali gagal meraih trofi juara di ajang bergengsi di Asia Tenggara ini, penampilannya bersama skuat Garuda mendapat apresiasi tersendiri.

Dari tujuh partai yang dimainkan, Indonesia menang pada enam partai dan sekali kalah. Sedang Malaysia yang tampil sebagai juara mencatat 3 kemenangan, 2 imbang dan 2 kali kalah.

Itulah mengapa Irfan tanpa sungkan mengaku kiprahnya di Piala AFF 2010 jadi momen paling spesial selama berkarier di sepak bola. Apalagi, ia bisa membuktikan diri memang layak berkostum Timnas Indonesia.

Dalam channel youtube , Irfan mengungkap alasan dirinya memutuskan meninggalkan Belanda dan kemudian berkarier di Indonesia. Irfan merasa sulit untuk bersaing di kasta tertinggi di Liga Belanda.

Situasi yang membuat mimpinya berkostum timnas Indonesia otomatis bakal sulit terwujud. Ia merujuk pengalamannya ketika berstatus pemain FC Utrecht pada periode 2007-2009. Saat itu masih ada kesenjangan dan perlakuan minor dari pemain yang lebih senior.

“Mereka selalu memandang sebelah mata pemain muda yang direkrut dari akademi. Alhasil kemampuan saya tak berkembang karena jarang mendapat kesempatan,” kenang Irfan Bachdim.

Mengalami periode sulit di Utrecht, Irfan Bachdim mencoba peruntungan di Harleem, klub Belanda. Irfan berharap dengan bermain di level kedua, kesempatan mendapatkan menit bermain lebih terbuka.

Pada awal kompetisi, ia memang mendapat menit bermain yang banyak. Sayang krisis finansial yang melanda Harleem membuat suasana internal tim tak kondusif. Irfan yang saat itu berusia 22 sempat berpikir untuk meninggalkan karier profesional dan ingin fokus pada pendidikan. Ia pun memperkuat klub amatir, SV Argon.

Pada momen itu ada ajakan buat mencoba peruntungan di Indonesia. Pada Maret 2010, Irfan mengikuti seleksi di Persib Bandung dan Jakarta. Sayang, ia tak mendapat tempat di dua klub itu.

Beruntung pada Agustus 2010, pelatih Malang, Timo Scheunemann mengajaknya bergabung. Statusnya sebagai pemain berpaspor Indonesia melempangkan jalan Irfan.

“Bagi saya bermain di Persema adalah kesempatan kedua dalam karier saya,” kata Irfan.

Irfan pun tak melepaskan momen itu untuk unjuk kemampuan sekaligus membuktikan dirinya layak bermain di timnas. Seperti diketahui, berkat penampilannya di Persema, Irfan akhirnya masuk dalam skuat Garuda di Piala AFF 2010.

“Saya dipanggil jelang turnamen. Yang membanggakan, saya langsung dipasang sebagai starter melawan Malaysia pada laga perdana dan mencetak gol.”

Selepas Piala AFF 2010, nama Irfan Bachdim kian menjulang. Tapi, keputusan Persema hengkang dari Liga Super Indonesia dan memilih berkompetisi di Liga Primer Indonesia membuat Irfan merasa berada di persimpangan jalan.

Di satu sisi ia harus menghormati kontraknya di Persema. Disisi lain, ia terancam kehilangan kesempatan bermain di timnas karena status LPI adalah breakaway league.

Beruntung, Menpora saat itu, Andi Mallarangeng memberinya jaminan satu tempat di timnas U-23 yang bersaing di 2011 dan kualifikasi Olimpiade 2012.

Selepas dari dua ajang ini, Irfan memutuskan meninggalkan kompetisi Indonesia yang masih mengalami dualisme dengan bergabung klub Thailand, Chonburi dan kemudian membela Sriracha dengan status pinjaman.

Dari Thailand, Irfan menyeberang ke Jepang dengan memperkuat klub , Ventforet Kofu pada 27 Januari 2014. Selepas dari Kofu, Irfan pindah ke klub Jeoang lainnya, Consadole Sapporo.

Di klub inilah, Irfan merasa mendapatkan segalannya. Mulai dari pengalaman sebagai pemain profesional serta nilai kontrak yang lumayan.Menurut Irfan, Sapporo, ia tak hanya belajar soal disiplin dalam pengaturan pola hidup dan makanan.

“Tapi juga sikap disiplin baik di dalam dan luar lapangan,” terang Irfan.

Selepas dari Sapporo, Irfan kembali ke Indonesia jelang Liga 1 2017 dengan memperkuat Bali United. Bersama klub berjuluk Serdadu Tridatu itu, Irfan akhirnya meraih trofi juara kasta tertinggi pada musim 2019. Kini, ia berseragam di yang tertunda karena pandemi COVID-19.

Berita Terkait