Imbas Kasus Bagus Kahfi, Program Garuda Select Dapat Kritikan Pedas

Setelah kasus Bagus Kahfi, Barito Putera, dan FC Utrecht viral di media, pengamat sepak bola Akmal Marhali turut memberikan kritikan pedas untuk program Garuda Select.

Garuda Select adalah program pembinaan pemain usia muda, lewat seleksi nasional yang digelar ketat, untuk kemudian para pemain bisa berlatih sepak bola dan melakoni laga uji coba di Eropa.

Nyatanya, mayoritas pemain Garuda Select yang lolos seleksi adalah pemain jebolan Liga 1 U-18, sehingga beberapa dari mereka sudah punya kontrak di klub, termasuk Bagus Kahfi di Barito Putera.

Sehingga, ketika Garuda Select memberikan peluang untuk pemainnya bergabung di tim Eropa, langkah ini tidak sepenuhnya berjalan mulus lantaran ada kontrak yang mengikat sang pemain.

Pengamat sepak bola, Akmal Marhali, pun meminta PSSI selaku induk sepak bola nasional, untuk mengaji ulang tujuan program Garuda Select, apakah selaras dengan kepentingan timnas Indonesia atau bisnis.

“PSSI harus meninjau ulang program Garuda Select, dari mulai visi dan misi sampai tujuan,” ucap Akmal Marhali kepada redaksi berita olahraga INDOSPORT, Rabu (2/12/20).

“Jangan seperti sekarang, jalan masing-masing, pelatih juga masing-masing, akhirnya tidak sinkron dengan kepentingan timnas Indonesia. Yang menonjol akhirnya proyek bisnis, akhirnya bikin pusing,” imbuhnya.

“Semua harus jelas dari awal, arah dan tujuannya, termasuk status pemainnya. Jangan sampai kasus Bagus Kahfi terulang, cukup dijadikan pelajaran,” tuntas Akmal Marhali.

Sejatinya, selain Bagus Kahfi, Garuda Select juga menyalurkan Brylian Aldama bermain di HNK Rijeka di Liga Kroasia. Bedanya, mantan pemain Persebaya Surabaya itu tak terikat kontrak dengan klub Liga 1 mana pun.