Tommy Welly Pertanyakan Tiga Hal kepada PSSI Terkait Liga 1 2020

Pengamat sepak bola, Tommy Welly atau yang biasa disebut , mempertanyakan tiga hal kepada terkait

Pertanyaan tersebut tentu soal Liga 1 2020 yang harus ditunda beberapa kali dan berencana akan kembali digelar pada bulan Februari mendatang.

Pertanyaan yang pertama adalah soal sesama pemerintah yang mempunyai perbedaan sikap.

Jika Menpora sebagai pembantu Presiden merestui Liga 1 2020 berjalan, namun pemerintah lain, yakni Kepolisian Republik justru melarang bergulirnya kembali liga 1 2020.

“Yang pertama, pemerintah mendukung kompetisi digelar. Sikap itu disampaikan lewat Menpora. Menpora itukan wakil pemerintah, menteri itukan pembantu Presiden. Jadi hal ini pemerintah di satu sisi lewat Mepora mendukung kompetisi digelar,” ucapnya swperti dikutip Bolasport.com dari kanal Youtubenya di Gocek Bung Towel, Senin (16/11/2020).

“Tetapi lewat pemerintah juga dalam hal ini kepolisian, tidak memberi izin. Itu yang membuat saya tidak mengerti,” ujarnya.

Lalu pertanyaan yang kedua terkait perilaku komunikasi Ketua Umun PSSI, yakni Mochamad Iriawan.

Bung Towel mempertanyakan apakah pertemuan PSSI dengan Kepolisian Republik Indonesia sudah terlaksana.

Pasalnya jika dilihat dari perilaku komunikasinya di media sosial, Mochamad Iriawan selalu membagikan momen apapun di media sosialnya.

“Yang kedua, jika didasarkan perilaku komunikasi Ketua Umum PSSI lewat media sosial kalau ada pertemuan, katakanlah Ketua Umum PSSI yang punya latar belakang Kepolisian bertemu dengan , pasti itu akan tersebar dengan cepat. Karena based on perilaku komunikasi Ketua Umum dengan publik kan sangat aktif.

“Seperti telfon ke disampaikan, ketar-ketir dengan juga disampaikan. Jadi secara perilaku komunikasi sebetulnya aktif, tetapi dengan kaitan kompetisi dan isu izin keramaian , hampir tidak ada sama sekali komunikasi apa yang dimunculkan oleh Ketua Umum kita di media sosial atau di PSSI,” ujarnya.

Serta yang terakhir soal kengototan PSSI untuk melanjutkan Liga 1 2020 di tahun 2021.

Padahal ada baiknya jika liga difokuskan untuk musim depan daripada tetap dilanjutkan di tahun yang berbeda.

“Yang ketiga, kengototan PSSI melanjutkan kompetisi 2020 di tahun depan, di Februari tahun depan. Jadinya publik menduha-duga ada di ruang abu-abu lalu kemudian menduga PSSI telah tersandera oleh pihak yang terlibat dalam kontrak kerja sama terkait kompetisi.

“Tapi publik juga kemudian bertanya, apa masa iya dikondisi seperti ini kontrak tidak ada penyesuaian, orang regulasinya saja disesuaikan. Itu yang menjadi pertanyaan publik saat ini di tengah ketidakmengertian terkait kompetisi,” ungkapnya.

Ia juga cukup prihatin kepada para klub karena harus melalui hal seperti saat ini.

Selama ini tentu kkub banyak berkorban akibat ketidakpastian dari PSSI terkait kompetisi.

“Kenapa tidak dianggap sebagai force majeure saja 2020, dan kita menatap kompetisi ditahun depan dengan schedule, format dan persiapan lebih baik. Pasalnya klub saat ini sudah terlalu banyak berkorban,” pungkasnya.

Berita Terkait