Angker, Pohon di Tribune Gelora 10 November Konon Tak Bisa Ditebang

Persebaya sebelum memakai Gelora Bung Tomo adalah penguasa yang membuat lawannya sulit menang di Gelora 10 November.

Sejak dibuka pada 1954, arena ini bernama Stadion Tambaksari karena terletak di Karangayam, Kecamatan Tambaksari, Kota Surabaya.

Namun mulai 1969, nama arena ini menjadi Stadion Gelora 10 November, ini representasi perjuangan arek-arek Surabaya melawan penjajah Belanda.

Ada pertempuran dahsyat pada 10 November 1945 yang kemudian diabadikan sebagai Hari Pahlawan.

Namun sebenarnya, arena ini saat masih berupa lapangan tanpa tribune permanen yang representatif sudah ada sejak 1923.

Lalu, stadion dibangun seperti sekarang dari 1951 hingga 1954 oleh arsitek bernama Tan Giok Tjiauw.

Kini, Gelora 10 November tak lagi jadi markas Persebaya tetapi dipertahankan sebagai warisan penting Kota Pahlawan.

Hanya saja, ada keunikan di tribune terbuka sisi timur, selatan, dan utara pada arena ini.

Di sana, tumbuh sejumlah pohon yang cukup besar dan rindang sehingga bisa jadi tempat berteduh penonton saat panas.

Sedari ditanam pada 1960-an, pohon besar yang berjenis Angsana itu berfungsi sebagai “atap pelindung” untuk para penonton.

Sebab, Kota Surabaya yang panas maka butuh tempat berteduh bagi penonton.

Meski demikian, pertumbuhan pohon ini makin besar dan menyebabkan tembok tribune pun retak serta dinilai membahayakan.

Pada sekitar awal 2000-an, menurut catatan dari wikipedia.web.id, kegiatan penebangan pohon gagal dilakukan.

Kabarnya, para penebang mengalami kesulitan dan jatuh sakit. Pohon-pohon pun dibiarkan hingga kini dan masih ada sebagai “pelindung” di Gelora 10 November.

Bonek selaku fan setia Persebaya, yang pernah menyaksikan laga langsung di Gelora 10 November, pasti merasakan manfaat pohon-pohon besar itu.