Respons Asisten Pelatih PSIS Imran Nahumarury Soal Wacana Liga 1 Diganti Format 2 Wilayah

Asisten pelatih Semarang, merespon positif wacana kompetisi diubah formatnya seandainya baru bergulir pada Januari 2021 mendatang.

Seperti diketahui, aktivitas sepak bola vakum sejak pertengahan Maret lalu akibat pandemi Covid-19. Kendati sempat ada rencana untuk melanjutkan kompetisi pada awal Oktober, nyatanya rencana tersebut masih gagal karena belum direstui pihak kepolisian.

Kemudian berdasarkan Extraordinary Meeting Club yang digelar (13/10) lalu di Jogjakarta, muncul kesepakatan seluruh klub agar kompetisi musim ini tetap dilaksanakan pada 1 November mendatang. Dengan catatan mendapat lampu hijau dari pemerintah, atau selambat-lambatnya pada awal Januari mendatang.

Format kompetisi dua wilayah menjadi opsi terbaik jika memang kompetisi musim 2020 ini tak bisa digelar pada 1 November mendatang.

Adapun mengenai wacana perubahan format kompetisi, pada intinya eks gelandang dan Indonesia tersebut mengatakan ia sebagai pelaku sepakbola mendukung apapun keputusannya.

Dengan catatan, berbagai aspek perlu diperhatikan. Misalnya dari segi lokasi, situasi pandemi, hingga masalah perijinan.

“Di sepakbola kita tidak bisa lihat satu sisi. Kita juga harus lihat aspek atau sisi yang lain juga. Intinya ketika kompetisi ini tidak berjalan, dalam hal ini sebagai otoritas tertinggi mereka harus mencari solusi,” kata Imran kepada Tribunjateng.com, Selasa (20/10/2020).

“Agar supaya sepakbolanya hidup lagi. Karena kalau misalnya Januari baru jalan, ada empat bulan (Dari Oktober sampai Desember) kita nganggur nih. Kita harus cari solusi,” tambahnya.

Namun demikian, Imran menyebut idealnya, jika kompetisi Liga 1 ditunda dan pada akhirnya baru bisa berlangsung Januari mendatang, alangkah baiknya memulai musim baru.

Hal tersebut dikarenakan untuk melanjutkan kompetisi musim 2020, ada berbagai macam dinamika yang dialami klub. Utamanya soal finansial.

“Tiap klub beda-beda kondisi finansial mereka. Duitnya beda-beda. Ada yang tidak masalah, tapi ada juga beberapa klub yang tidak bisa survive. Jadi kalau saya lihat dari teknisnya sudah tidak sehat. Sepakbolanya sudah tidak mood. Tapi idealnya mungkin harus dihentikan,” pungkasnya.

Berita Terkait