Akmal Marhali Sejak Maret 2020 Sarankan Kompetisi Liga Indonesia Dihentikan

Pengamat sepak bola nasional, Akmal Marhali menyoroti beberapa aspek terkait penundaan pelaksanaan Liga 1 2020 oleh PT Liga Indonesia Baru (LIB).

Akmal mengatakan bahwa dari awal pandemi Covid-19, terjadi di Indonesia pada awal Maret, dirinya telah menyarankan bahwa sebaiknya kompetisi Liga Indonesia dihentikan.

Menurutnya, kompetisi tersebut sangat berisiko apabila tetap dilanjutkan, mengingat perjalanan kompetisi masih panjang yang baru memainkan tiga pertandingan.

“Dari awal saya ragu saat kompetisi akan dilanjutkan. Dengan format yang dipaksakan. Seperti mendiadakan degradasi, tapi dimainkan penuh 34 pekan. Ini cukup panjang dan sangat membahayakan karena kompetisi baru main 3 pekan,” ujarnya, Rabu (7/10/2020).

Lebih lanjut, Akmal mengatakan bahwa sejumlah Liga di Eropa yang tetap berjalan saat pandemi Covid-19 terjadi tidak dapat disamakan dengan situasi dan kondisi yang terjadi di Tanah Air.

“Tidak bisa disamakan dengan La Liga, Liga Inggris, Liga Italia, karena mereka hanya menuntaskan kompetisi yang tinggal menyisakan 10 pertandingan saja. Sedangkan di Indonesia baru menggelar tiga pertandingan,” kata mantan Wakil Ketua Juri Nasional Copa Dji Sam Soe 2009 itu.

Sebagai perbandingan, Akmal membeberkan bahwa disejumlah Liga Eropa telah siap terkait penanganan yang tepat apabila ada stakeholder sepak bola yang terpapar Covid-19.

“Mereka juga sangat ketat menjalankan protokol kesehatan. Bagaimana mengevakuasi yang terpapar sampai mengembalilam psikologi pemain yang sudah terbebas covid termasuk lingkungannya,” jelasnya.

Sementara, untuk penanganan di Indonesia apabila stakeholder sepak bola yang terpapar Covid-19, masih sangat rentan dalam pelaksanaan teknisnya. Sebab, penanganan covid di masing-masing daerah berbeda.

“Nah, Indonesia baru mensosialisasikan protokol kesehatan pada 16 september. Itu pun via daring. Dan, dengan penanganan covid yang berbeda-beda kebijakannya tiap daerah amat sangat sulit memastikan semua dapat dipahami secara utuh,” tegasnya.

Melihat situasi dan kondisi yang terjadi di Indonesia, Akmal menilai bahwa kompetisi sepak bola di Tanah Air sulit terlaksana dengan format full kompetisi saat pandemi Covid-19 seperti ini.

“Dalam kondisi saat ini melihat situasi dan kondisi sangat sulit bisa memastikan kompetisi dengan format utuh bisa digelar di Indonesia. Dulu, saya menyarankan kompetisi di stop. PSSI fokus persiapan kompetisi musim 2021 seperti yang dilakukan Eradivisie Belanda di awal pandemi covid,” ungkapnya.

Sebagai solusi, Akmal menyarankan bahwa sebaiknya kompetisi Liga Indonesia dihentikan dan dialihkan menjadi turnamen sepak bola.

‘Kalau pun mau memulai kembali kegiatan bentuknya bisa turnamen seperti Piala Indonesia atau Piala Presiden yang formatnya bisa dimodifikasi disesuaikan dengan kondisi. Misalnya, sistem gugur disentralisasi di satu wilayah,” tegasnya.

“Dengan konsep dan format yang memberikan keamanan, kenyamanan dan juga kesehatan serta keselamatan stakeholder sepakbola yang terlibat. Mulai dari pengelola klub, sampai kepada pemain, pelatih, wasit,” tambahnya.

Akmal menilai bahwa saat ini tim sepak bola membutuhkan atmosfer pertandingan di lapangan hijau guna menjaga performanya.

“Tujuannya, hanya untuk mengembalikan atmosfer sepak bola dan juga mengembalikan psikologi masyarakat di tengah pandemi,” paparnya.