Firmansyah Kenang Derby Tangerang: Persikota Vs Persita

Ada banyak laga derby panas di sepak bola Indonesia. Di antaranya tentunya Derby Tangerang antara Persita Tangerang versus Persikota Tangerang.

Persita mewakili Kabupaten Tangerang. Sementara Persikota dari Kota Tangerang. Laga ini tak hanya panas di dalam lapangan, tapi juga luar lapangan.

Bahkan hampir setiap Derby Tangerang berlangsung, dua suporter tim yang dikenal sangat militan, terlibat bentrokan. Puncaknya sampai ada fatwa haram sepak bola di kota industri ini.

Laga panas Derby Tangerang diakui oleh salah satu legenda Persikota, Firmansyah. Dia mendapuk laga Persikota kontra Persita sebagai pertandingan paling berkesan buatnya.

“Kalau (pertandingan) berkesan banyak. Tapi salah satunya, kita semua tahu pasti, Derby Tangerang. Paling ditunggu-ditunggu,” kata Firmansyah pada channel YouTube, Benteng Mania.

“Kita bicaranya atmosfer sangat luar biasa. Panas di luar, tapi di dalam tetap dingin, meski kadang sebaliknya juga. Cukup luar biasa pertandingan derby,” lanjutnya.

Menurutnya dalam setiap laga Derby Tangerang, hanya satu kata yang dipegang oleh Firmansyah dan kawan-kawan di Persikota. Adalah kemenangan.

“Setiap kali derby, pasti ingin menang. Istilhnya kita memperebutkan siapa juara Benteng (stadion Persita dan Persikota saat itu). Mereka mungkin juga punya motivasi sama. Persita ingin kalahkan Persikota. Begitu juga kami. Ini yang membuat atmosfer berbeda,” penggawa Timnas Indonesia di Piala Asia 2004 ini mengatakan.

Kenangan Persikota

Firmansyah sendiri sudah memperkuat Persikota selama enam tahun kurun waktu 2000-2006. Dalam kurun waktu itu, ia tentunya memiliki banyak sahabat di tim berjuluk Bayi Ajaib tersebut.

“Kalau sahabat banyak ya. Keluarga semua. Ada banyak senior yang saya kagumi. Yeyen Tumena, Francis Wewengkang banyak lagi. Kalau sudah ke sini ada Zaenal Anwar, Aliyudin, Tema Mursadat,” kata Firmansyah.

Pemain kelahiran 7 April 1980 ini juga pernah mencicipi dilatih banyak arsitek hebat selama memperkuat Persikota. Sebut saja Rahmad Darmawan, almarhum Henk Wullems sampai Mundari Karya.

“Kalau ditanya pelatih terbaik semua terbaik. Siapapun pelatihnya. Kita harus menyikapi ambil baiknya. Apapun tujuan pelatih memenangkan pertandingan dan punya tim terbaik,” ucap pemain yang memperkuat Pelita sebelum gabung Persikota ini.

Persikota sendiri saat ini berada di Liga 3. Fakta eks timnya berada di level bawah kompetisi sepak bola Indonesia, membuat Firmansyah sedih.

“Saya melihat pribadi sedih juga karena kasta Persikota level ketiga. Tetap berusaha jangan putus asa, jaga kekompakan. Tujuan harus matang sehingga bisa tercapai,” Firmansyah memberikan saran kepada Persikota.