Sepakbola No, Pilkada dan Konser Dangdut Yes

Tak ada yang lebih mengecewakan bagi insan sepak bola nasional saat Mabes memutuskan tidak memberi izin keramain untuk perhelatan Liga 1 dan yang rencananya bakal berlangsung awal Oktober nanti. Salahkah langkah Polri mengeluarkan izin tersebut?

Berkaca alasan pihak Polri tentu kita semua sepakat bahwa tidak ada yang lebih penting saat ini dari kesehatan dan keamanan bersama. Angka penderita Covid-19 masih mengkhawatirkan dan keputusan negara yang diwakili oleh polisi tersebut wajib diapresiasi.

Yang kemudian menimbulkan pertanyaan dari banyak pihak adalah mengapa perhelatan sepak bola harus ditunda (lagi) sedangkan di sisi lain konser dangdut di Tegal serta gelaran boleh jalan terus? Tentu tidak apple to apple membandingkan ketiga hal tersebut.

Boleh dibilang untuk konser dangdut, negara kecolongan. Toh pelaku yang menyelenggarakan konser tersebut adalah wakil rakyat dan sudah meminta maaf. Si wakil ketua DPRD itu juga telah dijadikan tersangka oleh pihak kepolisian meski tak harus meringkuk di balik jeruji besi.

Sedangkan untuk gelaran Pilkada, pihak penyelenggara (KPU) sebenarnya juga menunda dari beberapa bulan lalu. Negara yang diwakili Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan juga sudah menekankan bahwa gelaran Pilkada nantinya tidak akan menimbulkan klaster baru Covid-19.

Keyakinan pria yang ditunjuk oleh Presiden Jokowi untuk memimpin penanganan covid-19 di sembilan provinsi prioritas tersebut sangat khas dengan pemikiran Menkes Terawan di awal kemunculan Covid-19 di .

Kembali ke persoalan penundaan restart liga 1 dan liga 2. Ketum , menyebut bahwa kick off hanya tertunda 1 bulan saja dan pihaknya akan berusaha agar di bulan November, kompetisi bisa kembali bergulir.

“PSSI memohon ditunda satu bulan, tentu mempertimbangkan situasi yang ada. Mulai November bisa selesai bulan Maret.” ucap pria yang akrap disapa tersebut, Selasa (29/9/2020).

Yang menarik tentu saja jika Indonesia memastikan urusan pemilu tetap dilanjutkan dan sepak bola dihentikan sementara. Di beberapa negara lain justru sebaliknya. Selandia Baru dan Hong Kong jadi negara yang menunda urusan pemilu. Bagaimana dengan sepak bola di dua negara tersebut?

Otoritas sepak bola Hongkong sudah memberi lampu hijau untuk Hong Kong Premier League bergulir. Tentu dengan rangkaian protokol kesehatan yang sangat ketat. Dikutip dari South China Morning Post, pihak pemerintah meminta semua stakeholder sepak bola Hongkong mematuhi protokol kesehatan.

“Pemerintah masih belum memberikan izin membuka stadion untuk umum tapi kami telah diberi izin khusus untuk penggunaan fasilitas untuk kompetisi liga asalkan kami mengikuti semua syarat dan protokol dari pemerintah,” ucap ketua PSSI-nya Hongkong, Pui Kwan Kay.

Menurut Pui Kwan Kay, pihak pemerintah merasa bahwa kompetisi sepak bola bisa menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat. Meski mereka sadar bahwa masih ada jalan panjang bagi bisa datang ke stadion dan menonton langsung.

“Tetapi setidaknya kami sekarang dapat kesempatan untuk menyelesaikan musim sebelum dan menanti musim baru,” tambah Pui.

Yang dibutuhkan saat ini jika kembali berkaca pada kompetisi Liga 1 dan Liga 2 adalah konsistensi dan ketegasan negara. Kita semua sadar bahaya pandemi Covid-19 dan kita membutuhkan negara konsisten dan tegas untuk menerapkan aturan tidak bersayap dan menimbulkan pro kontra di tengah masyarakat.

Penting untuk diingat juga bahwa kembalinya kompetisi sepak bola bukan sekedar hiburan semata. Ia juga salah satu faktor yang bisa mendongkrak perekonomian lokal. Pelaku sepak bola internasional menyadari pentingnya hal tersebut dan karenanya hampir di semua negara mendorong agar kompetisi sepak bola bisa berjalan terus dengan tetap mematuhi keapda protokol kesehatan yang ada.

“Semuanya membutuhkan waktu, negara membutuhkan sepak bola sebagai dukungan ekonomi dan orang-orang membutuhkannya sebagai hiburan,” ucap bek dan kapten , Sergio Ramos.

kompasiana

Berita Terkait